![]() |
|
|||||||
| Hikmah, Motivation and Inspired Story Kumpulan cerita dari berbagai sumber. Cerita atau kisah-kisah yang membangkitkan semangat hidup, motivasi, inspirasi, kebijakan, renungan, kata-kata bijak, cerita unik yang menarik, kisah teladan, kisah sukses dan lain-lain |
![]() |
|
|
LinkBack | Thread Tools |
|
||||
|
Prasangka
Prasangka
Ada sebuah cerita yang kelihatannya ringan. Sebuah keluarga yang terdiri atas: ayah, ibu, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, sudah gadis. Dari segi komposisi adalah merupakan keluarga ideal menurut program KB. Namun perlu dicatat, cerita ini sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka. Saya mendengar cerita ini dari nenek semasa saya masih kecil. Diceritakan nenek menjelang tidur malam. Keempat anggota keluarga itu semuanya pekak. Artinya tuli betul, sebenar-benarnya tuli. Suatu hari si anak laki-laki sedang menggembalakan kambingnya di pinggir kampung. Seorang asing liwat. Menanyakan arah jalan yang bercabang dua. Si anak menjawab: "Ini kambing saya, ini kambing bapak saya. Mengapa engkau mengatakan kambing ini milikmu. Awas, tunggu di sini, saya beritahu ibuku di rumah. "Anak itu menghalau kambingnya pulang ke rumah. Masih di tangga si anak berteriak: "Ibu, di pinggir kampung, di luar sana ada orang yang mengaku-ngaku kambing kita ini adalah kambingnya." Dengan suara pasrah si ibu menjawab: "Biarlah nak, kita ini memang orang miskin. Tidak usah marah. Biarkanlah dia mencela celana bapakmu yang penuh dengan tambalan itu." Sepulangnya suaminya dari kebun, belum sempat melangkahkan kaki suaminya masuk rumah, si isteri berucap: "Pak, menurut anak kita ada yang mencela celanamu yang penuh tambalan. Saya katakan, sudahlah nak, tidak usah masukkan di hati, kita ini memang petani miskin." Si suami menjawab: "Haram, kalau saya makan pisang di kebun. Kalau ada yang menyampaikan kepadamu saya ini suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi di kebun, itu fitnah." Si gadis di dapur melirik ke depan pintu tempat kedua orang tuanya berdialog. Dia tentu saja hanya mampu melirik, karena tidak sanggup menguping, maklumlah ia pekak. Setelah dialog berakhir, si gadis melompat ke dekat pintu dengan tersedu-sedu ia berkata: "Biarlah mak, biarlah pak, kalau ada yang meminang, jangan ditolak, terima saja." *** Dalam kehidupan kita sehari-sehari tidak jarang kita terlibat dalam hal prasangka. Sikap berprasangka yang dibentuk oleh kepicikan, pandangan sempit, curiga kepada bayangan sendiri. Cerita di atas itu dikarang oleh nenek moyang kita untuk memberikan potret sekelompok manusia yang bersikap prasangka yang ekstrem. Memang nenek moyang kita, pengarang cerita itu, orang jenius. Keadaan pekak menggambarkan orang yang tidak mau mendengar pendapat orang lain. Yang penting adalah persepsinya sendiri, sangat sukar berkomunikasi dengannya. Sikap prasangka yang ekstrem, yang dibentuk oleh kondisi kejiwaannya. Si anak laki-laki mendapat tugas menggembalakan kambingnya. Tanggung jawabnya itu menyebabkan ia bersikap waspada secara berlebihan. Apapun yang diucapkan atau dilakukan orang ditanggapinya mau merongrong kedudukannya sebagai gembala, mau mengambil, mau merampas kambing itu dari tangannya. Si ibu yang pekerjaan rutinnya menambal celana suaminya mnyebabkan ia dihinggapi penyakit rendah diri, minderwaadigheid complex. Semua tindak-tanduk orang selalu ditafsirkannya mengejek celana suaminya. Si suami yang suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi, selalu ibarat mempunyai monyet di punggung. Rasa kuatir bahwa isterinya akhir-akhirnya akan tahu juga, selalu mengusik jiwanya. Waktu isterinya melapor bahwa celananya dicela orang, ia menyangka rahasianya sudah terbuka. Yang bungkuk dimakan sarung. Si gadis, adalah gadis pingitan, yang jiwanya selalu meratap, mendambakan orang datang meminang. Seperti diungkapkan oleh Kelong Mangkasara' (pantun Makassar): Bosi minne bara'minne, bungaminne campagayya. Inakatte minne, lama'lonjo' pa'risitta. Turunlah hujan, musim barat tiba, pohon cempaka berbunga pula. Nasibku memang, selalu dirundung malang. Si gadis menanti harap-harap cemas dari tahun ke tahun. Yang ditandai dengan datangnya musim barat, bahkan pohon cempaka sudah berbunga pula. Tetapi selalu dirundung malang, belum ada yang datang meminang. Maka oleh pembicaraan ibu dengan bapaknya dekat pintu, begitu serius dilihatnya, timbullah prasangkanya: telah ada yang datang meminang. kesimpulan: jangan berprasangka berlebihan..hehehhee )
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi) http://www.izzanabila.com http://blog.intersat.net.id |
| Sponsored Links |
|
|
![]() |
| Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests) | |
| Thread Tools | |
|
|