Intersat Forum  


Go Back   Intersat Forum > Forum Bebas > Hikmah, Motivation and Inspired Story
Home Register Members List Calendar Kuis Search Today's Posts Mark Forums Read

Hikmah, Motivation and Inspired Story Kumpulan cerita dari berbagai sumber. Cerita atau kisah-kisah yang membangkitkan semangat hidup, motivasi, inspirasi, kebijakan, renungan, kata-kata bijak, cerita unik yang menarik, kisah teladan, kisah sukses dan lain-lain

Reply
 
LinkBack Thread Tools
  #1 (permalink)  
Old 05-04-2005, 06:44 PM
aan's Avatar
aan aan is offline
Senior Member
-: Master :--: Master :-
 
Join Date: May 2002
Location: Jl. Tentara Rakyat Mataram, Badran Yogyakarta
Posts: 870
Send a message via ICQ to aan Send a message via Yahoo to aan
Prasangka

Prasangka

Ada sebuah cerita yang kelihatannya ringan. Sebuah keluarga yang terdiri
atas: ayah, ibu, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, sudah
gadis. Dari segi komposisi adalah merupakan keluarga ideal menurut program
KB. Namun perlu dicatat, cerita ini sudah lama ada sebelum Indonesia
merdeka. Saya mendengar cerita ini dari nenek semasa saya masih kecil.
Diceritakan nenek menjelang tidur malam. Keempat anggota keluarga itu
semuanya pekak. Artinya tuli betul, sebenar-benarnya tuli.

Suatu hari si anak laki-laki sedang menggembalakan kambingnya di pinggir
kampung. Seorang asing liwat. Menanyakan arah jalan yang bercabang dua. Si
anak menjawab: "Ini kambing saya, ini kambing bapak saya. Mengapa engkau
mengatakan kambing ini milikmu. Awas, tunggu di sini, saya beritahu ibuku di
rumah. "Anak itu menghalau kambingnya pulang ke rumah.

Masih di tangga si anak berteriak: "Ibu, di pinggir kampung, di luar sana
ada orang yang mengaku-ngaku kambing kita ini adalah kambingnya." Dengan
suara pasrah si ibu menjawab: "Biarlah nak, kita ini memang orang miskin.
Tidak usah marah. Biarkanlah dia mencela celana bapakmu yang penuh dengan
tambalan itu."

Sepulangnya suaminya dari kebun, belum sempat melangkahkan kaki suaminya
masuk rumah, si isteri berucap: "Pak, menurut anak kita ada yang mencela
celanamu yang penuh tambalan. Saya katakan, sudahlah nak, tidak usah
masukkan di hati, kita ini memang petani miskin." Si suami menjawab: "Haram,
kalau saya makan pisang di kebun. Kalau ada yang menyampaikan kepadamu saya
ini suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi di kebun, itu fitnah."

Si gadis di dapur melirik ke depan pintu tempat kedua orang tuanya
berdialog. Dia tentu saja hanya mampu melirik, karena tidak sanggup
menguping, maklumlah ia pekak. Setelah dialog berakhir, si gadis melompat ke
dekat pintu dengan tersedu-sedu ia berkata: "Biarlah mak, biarlah pak, kalau
ada yang meminang, jangan ditolak, terima saja."

***

Dalam kehidupan kita sehari-sehari tidak jarang kita terlibat dalam hal
prasangka. Sikap berprasangka yang dibentuk oleh kepicikan, pandangan
sempit, curiga kepada bayangan sendiri. Cerita di atas itu dikarang oleh
nenek moyang kita untuk memberikan potret sekelompok manusia yang bersikap
prasangka yang ekstrem. Memang nenek moyang kita, pengarang cerita itu,
orang jenius. Keadaan pekak menggambarkan orang yang tidak mau mendengar
pendapat orang lain. Yang penting adalah persepsinya sendiri, sangat sukar
berkomunikasi dengannya. Sikap prasangka yang ekstrem, yang dibentuk oleh
kondisi kejiwaannya.

Si anak laki-laki mendapat tugas menggembalakan kambingnya. Tanggung
jawabnya itu menyebabkan ia bersikap waspada secara berlebihan. Apapun yang
diucapkan atau dilakukan orang ditanggapinya mau merongrong kedudukannya
sebagai gembala, mau mengambil, mau merampas kambing itu dari tangannya.

Si ibu yang pekerjaan rutinnya menambal celana suaminya mnyebabkan ia
dihinggapi penyakit rendah diri, minderwaadigheid complex. Semua
tindak-tanduk orang selalu ditafsirkannya mengejek celana suaminya.

Si suami yang suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi, selalu ibarat
mempunyai monyet di punggung. Rasa kuatir bahwa isterinya akhir-akhirnya
akan tahu juga, selalu mengusik jiwanya. Waktu isterinya melapor bahwa
celananya dicela orang, ia menyangka rahasianya sudah terbuka. Yang bungkuk
dimakan sarung.

Si gadis, adalah gadis pingitan, yang jiwanya selalu meratap, mendambakan
orang datang meminang. Seperti diungkapkan oleh Kelong Mangkasara' (pantun
Makassar):

Bosi minne bara'minne,

bungaminne campagayya.

Inakatte minne,

lama'lonjo' pa'risitta.

Turunlah hujan, musim barat tiba,

pohon cempaka berbunga pula.

Nasibku memang,

selalu dirundung malang.

Si gadis menanti harap-harap cemas dari tahun ke tahun. Yang ditandai dengan
datangnya musim barat, bahkan pohon cempaka sudah berbunga pula. Tetapi
selalu dirundung malang, belum ada yang datang meminang. Maka oleh
pembicaraan ibu dengan bapaknya dekat pintu, begitu serius dilihatnya,
timbullah prasangkanya: telah ada yang datang meminang.

kesimpulan: jangan berprasangka berlebihan..hehehhee )
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
http://www.izzanabila.com
http://blog.intersat.net.id
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Sponsored Links

Reply


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


All times are GMT +8. The time now is 09:07 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.6.7
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
SEO by vBSEO 3.3.0
Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009