Intersat Forum  


Go Back   Intersat Forum > Forum Bebas > Hikmah, Motivation and Inspired Story
Home Register Members List Calendar Kuis Search Today's Posts Mark Forums Read

Hikmah, Motivation and Inspired Story Kumpulan cerita dari berbagai sumber. Cerita atau kisah-kisah yang membangkitkan semangat hidup, motivasi, inspirasi, kebijakan, renungan, kata-kata bijak, cerita unik yang menarik, kisah teladan, kisah sukses dan lain-lain

Reply
 
LinkBack Thread Tools
  #1 (permalink)  
Old 07-26-2005, 02:54 PM
aan's Avatar
aan aan is offline
Senior Member
-: Master :--: Master :-
 
Join Date: May 2002
Location: Jl. Tentara Rakyat Mataram, Badran Yogyakarta
Posts: 870
Send a message via ICQ to aan Send a message via Yahoo to aan
Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi

Kisah Seorang Pemeriksa Pajak Melawan Korupsi

Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip
hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang,
teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa
korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski
orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling
tidak yang saya rasakan langsung.

Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian
kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992
saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk
generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim.
Waktu itu pertentangan memang sangat
keras. Saya punya prinsipsatu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram
menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan
tidak menikmati sedikit pun harta yang haram.
Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian
keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di
Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya
tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo.
Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.

Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan
kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten
dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan
kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan
konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama menjalankan
prinsip hidup seperti ini kepada istri.
Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak.
Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah. Menjalani prinsip seperti ini jelas
banyak ujiannya.

Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa
orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik- adik dan keluarga.
Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang.
Proses memberi pemahaman seperti ini pada
keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung
ke rumah saya di Medan, saat itulah
mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan
mereka bisa memahami.

Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau
dibandingkan teman-teman seangkatan
sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya
paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi
dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir
terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka
buruk. Terutama poin ketaatannya,
dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang
berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat
bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya
tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus,
pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita
sudah
dikhianati. Cara seperti in seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati.
Mereka dikenalkan dengan gaya hidup
dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan.
Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja
dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata
saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau
bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan
seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan
bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak
saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan
kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu
kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah,
mangajak mancing atau ke toko buku sambil
membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil
pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu
itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau
semua penyimpangan ini kita ungkapkan,
maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek
pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang
saya, betapa tidak adilnyakalau tidak mengungkap temuan itu. Karena
sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal
penagihannya pun sama seperti
perusahaan lain.

Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah
tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar
pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa
saya terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota
tim yang menolak dan memintaagar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar,
kalau saya tidak menandatangani hasil
laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak
ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti
mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan
disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka
untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabatdan seperti keluarga
sendiri dengan saya itu mengatakan, "Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik." Saya katakan,
"Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan
korupsi." Kemudian ia sampaikan terus terang
bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari
klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata
berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti
itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap.

Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan
menggiring ke arah yang mereka mau. Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan
kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada
isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.

Ia lalu mengatakan, "Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai," katanya.
Ternyata di luar pengatahuan saya alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun
oleh
isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski
ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk
tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang
jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir
setiap pekan. Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke
kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.

Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di
lantai. Saya katakan, "Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu.
Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian." Mereka tidak bisa bicara
apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok
harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di
arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang.
Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin.
Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya
tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya
ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika
anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis.
Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami
ke
rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.

Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan
saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk
sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah
sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa
isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu alam apakah dia
sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya
pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang
sudah lunas. Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus
diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi
karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru
berumur empat tahun, saya tidak pakai
Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu
saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali
menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah,
ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian
di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak
bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia
katakan, "Kenapa tidak bilang-bilang?" Saya
sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan
penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya
juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar
keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena
tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa
pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang
seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak
demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga
bekerja sebagai guru.

Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda.
Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak
berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK,
BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka
dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti
rantai makanan. Siapa memakan siapa.

Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini
takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, "Uang setan ya dimakan hantu."

Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya
berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan
diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang
bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan
uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak
meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari
mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah
bisa memberikan uang sebesar itu.

Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari
Jum'at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum'atan. Atasan yang berikutnya lagi
pada
momen berikutnya memberi juga.

Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau
dihitung-hitung sebenarnya lebih besar
uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit
berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit
berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang
korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi,
ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan
hanya sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia
sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan,
adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya
uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh,
akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan.
Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh.
Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.

Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus
bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan
rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil
rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan
(matanya
berkaca-kaca).

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni 2005)
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
http://www.izzanabila.com
http://blog.intersat.net.id
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Sponsored Links

  #2 (permalink)  
Old 07-27-2005, 12:56 PM
@rdi's Avatar
Senior Member
Rest To MasterRest To Master
 
Join Date: May 2004
Posts: 253
Send a message via Yahoo to @rdi
ya rabbi kuat kan hambu tuk selalu berada di jalan lurus...
semoga kita bisa menjadi tauladan di manapun kita berada.... mulailah dari hal yang kecil-kecil, hindari memakan uang haram untuk anak keturunan kita..
makin sempitnya dan susahnya perjuangan tuk hidup sekarang semoga tidak membuat hati kita semakin sempit dan sudah tapi justru semakin lapang dan luas....
karena setiap kita pasti memiliki rejekinya masing-masing
__________________
kesadaran adalah matahari.... kesabaran adalah bumi... perjuangan adalah mewujudkan kata-kata.
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Reply


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On

Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Mahkamah yang (tidak lagi) Agung - Pola2 Korupsi di MA aan Science 'n Art 11 10-15-2005 11:29 PM
Mari Korupsi! aan Science 'n Art 4 04-26-2005 08:00 PM
ARTI SEORANG SAHABAT Mr_Who Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 12-21-2004 01:46 PM
Seorang Pemimpin aan Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 10-04-2004 01:47 AM
kisah seorang tukang bersih2 pesan_tuhan Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 08-12-2004 03:11 AM


All times are GMT +8. The time now is 09:00 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.6.7
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
SEO by vBSEO 3.3.0
Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009