Intersat Forum  


Go Back   Intersat Forum > Forum Bebas > Hikmah, Motivation and Inspired Story
Home Register Members List Calendar Kuis Search Today's Posts Mark Forums Read

Hikmah, Motivation and Inspired Story Kumpulan cerita dari berbagai sumber. Cerita atau kisah-kisah yang membangkitkan semangat hidup, motivasi, inspirasi, kebijakan, renungan, kata-kata bijak, cerita unik yang menarik, kisah teladan, kisah sukses dan lain-lain

Reply
 
LinkBack Thread Tools
  #1 (permalink)  
Old 08-24-2005, 03:35 PM
aan's Avatar
aan aan is offline
Senior Member
-: Master :--: Master :-
 
Join Date: May 2002
Location: Jl. Tentara Rakyat Mataram, Badran Yogyakarta
Posts: 870
Send a message via ICQ to aan Send a message via Yahoo to aan
Seorang Lelaki dan Iblis Yang Menangis

Sumber = unknown

Seorang Lelaki dan Iblis Yang Menangis

Aku meneguk tehku sampai habis, kemudian meletakkan cangkirnya di meja
kecil samping tempat tidurku. Kuletakkan buku yang kubaca. Membuang rasa
penat, aku bangkit, berdiri sambil meletakkan tangan di pinggang, lalu
membuat gerakan memutar pinggulku ke kiri-kanan. Gemeretak bunyi tulang
punggungku terdengar begitu nikmat.

Entah mana yang lebih nikmat, bunyinya ataukah rasanya? Aku tidak mau
berpikir lebih lanjut. Ada kenikmatan lain yang ditawarkan alam padaku.
Di luar, sinar bulan yang baru mulai muncul menyeruak masuk dari pintu
beranda kamarku. Menyeret sendal kamar di kakiku, aku membuka pintu
beranda.

Maksud hati ingin lebih menikmati indahnya panorama itu, tapi
pemandangan lain kontan menyedot perhatian di balik pintu yang terbuka.

Seorang, seekor - atau sesosok - Iblis duduk di beranda. Kukenali dari
dua tanduk di kepala, tubuh telanjang tanpa alat kelamin dan ekor dengan
bentuk mata panah diujungnya. Sinar lampu di belakangnya membuat
posisinya membentuk seperti siluet the thinker, karya Auguste Rodin.
Sesaat, berandaku terasa seperti galery museum Decorative Arts di Paris.
Mendadak rasa takut menyelimuti tubuhku. Kuamati lekat mencari
tanda-tanda, apakah ini patung? Atau iblis yang sebenarnya?

Hah..! Ia mendesah panjang!

Dalam keterkejutanku, kucopot sendal kamarku dan kulempar sekuat tenaga
ke arahnya. Sendal itu terlalu ringan, dan aku melempar tanpa bidikan
yang jitu. Bukan menampar wajahnya, sendal itu malah menyangkut di salah
satu tanduknya. Dan itu rupanya tidak cukup mengganggu, apalagi
mengusirnya. Bahkan ia tidak bereaksi sedikit pun.

Ku tunggu beberapa detik, yang terasa seperti bermenit-menit. Ia tetap
tidak bereaksi. Lalu kuputuskan mencoba mengusir dengan teriakan agak
keras, "Hush.. Pergi Sana!"

Tapi ia masih disitu. Duduk di ujung kursi berandaku. Aku sejenak ragu.
Takut, tapi harus berani. Bagaimana pun aku orang beragama bukan? Orang
beragama tidak boleh takut pada Iblis. Tapi harus takut pada TUHAN. Pada
ALLAH sang pencipta.

Jadi kudekati dia lebih dekat, dan kuulangi teriakan pertama dengan sisa
sebelah sandal kamar teracung di tangan kananku. Ia menoleh sedikit,
dengan sendal kamar masih menyangkut di tanduknya, membuatku bersiap
atas kemungkinan berhadapan dengan kemarahan sang Iblis. Tapi yang
kulihat membuatku terkejut. Lho? Ia menangis!

Mataku tertumbuk pada matanya yang berair. Bulir air mata tampak
satu-satu
turun dari sudut matanya. Ia menoleh dengan sudut lebih besar, sehingga
wajahnya kini terlihat lebih jelas. Tak terlalu buruk untuk ukuran Iblis
- walau tentu saja aku tidak pernah tahu gambaran wajah Iblis
sebenarnya. Tapi paling tidak wajahnya tidak seperti wajah-wajah jin
atau iblis dalam film Hollywood. Mungkin agak mirip tokoh Sith Lord di
Phantom Menace-nya George
Lucas, botak, bertanduk, hidung mancung dan mata yang besar, tapi cukup
bersih dan cakap.

"Pergi.. Jangan ganggu!", kali ini seruanku lebih perlahan tapi tetap
tegas.


Sesaat ia mengamatiku, kemudian menjawab. Suaranya terdengar agak parau
dan
kasar.

"Mengapa?", tanyanya, "Kau begitu takut padaku?"

Tentu saja aku takut padanya. Siapa manusia yang tidak takut Iblis? Tapi
seperti yang kukatakan, orang beragama diajarkan hanya takut pada ALLAH,
pada TUHAN yang kita sembah. Dan aku orang beragama, jadi aku berbohong
padanya, "Aku tidak takut sedikit pun padamu!"

Ia mendesah, terdengar seperti desahan kakek-kakek tua.

"Walaupun aku adalah raja dari kaum-ku? Pemimpin besar dari segala
Iblis?"

"Walaupun kamu raja dari segala raja biang setan di seluruh dunia dan
akhirat", jawabku. Entah siapa yang aku coba yakinkan, dirinya atau
diriku sendiri.

"Kau tidak berdusta?", tanyanya.

Aku agak ragu juga untuk menjawab. Berdusta itu dosa bukan? Iblis ini
memang
sialan. Hanya dalam beberapa detik bercakap dengannya, aku sudah
melakukan
satu dosa. Atau mungkin dua? Apakah melempar sandal ke kepala sang Iblis
termasuk perbuatan dosa? Entahlah, mungkin nanti aku periksa dalam kitab
suci - kalau-kalau ada ayat yang menyatakan tentang itu-. Yang jelas,
kalau aku menjawab pertanyaannya kali ini, berarti aku sudah berbohong
dua kali.

Jadi aku diam saja. Agak mengangguk sedikit. Semoga mengangguk kecil
tidak
termasuk berbohong.

"Lalu kenapa aku harus pergi?" tanyanya lagi. "Apakah dengan duduk
disini
sudah demikian mengganggumu? Atau kau demikian benci padaku?"

"Kau Iblis. Bahkan katamu kau raja dari segala Iblis. Tentu saja aku
benci
padamu. Apa yang kau harapkan? Aku mencintaimu? Edan!"

Iblis itu menunduk. Lalu mulai menangis seperti anak kecil.
Tersedu-sedu,
kepalanya mengangguk-angguk. Sendal di tanduknya jadi bergoyang-goyang.
Pemandangannya agak lucu sebenarnya, tapi segera tertepis dengan
kecurigaan
yang muncul dalam benakku.

"Permainan apa yang ingin kau hadirkan padaku Iblis? Hentikan tangismu!
Kau bisa membangunkan seisi rumahku!"

Setelah menarik napas panjang beberapa kali, isaknya menyurut. Ia
menatapku
dengan tatapan sedihnya. "Boleh aku minta teh?"

Aku tidak habis pikir, tentu saja. Untuk apa seorang -atau sesosok-
iblis
minta teh? Kecurigaanku bertambah. Pasti -kataku yakin dalam hati- ia
sedang
merencanakan sesuatu.

Apa pilihanku? Menolak? Bagaimana orang yang percaya pada Allah bersikap
dalam kondisi begini? Apakah memberi teh pada Iblis adalah satu dosa?

Seandainya saja ada malaikat yang hadir di sini, mungkin aku bisa
bertanya.
Entah benar atau tidak, malaikat itu rasanya seperti polisi di negeri
ini saja. Saat dibutuhkan, tak tahu kemana rimbanya. Ataukah mereka ada,
dan aku saja yang tidak mengetahuinya?

Apakah setiap kali Iblis hadir dan menggoda manusia, otomatis malaikat
akan
hadir pula? Seperti visualisasi pertempuran bathin tokoh-tokoh kartun
dalam
film walt disney dimana ada gambaran sosok bersayap dan sosok bertanduk
yang
saling membujuk? Kalau ya, di mana mereka kini?

Aku memincingkan mata, mencoba mencari sosok-sosok putih bersayap. Di
sudut-sudut beranda, di taman pekarangan, di balik selasar. Sekali
kusenggol
pintu perlahan dengan kakiku untuk mengecek -jangan-jangan ada malaikat
di
baliknya-. Tapi tidak ada tanda-tandanya.

Jadi aku masuk ke dalam, menghampiri poci teh di meja samping tempat
tidurku. Kuusap bibir cangkir yang bekas kupakai dengan bajuku, lalu
kutuang
teh secukupnya, dan kubawa kembali ke beranda.

"Dengan satu syarat," kataku saat mengacungkan cangkir teh ke depan
hidungnya. "Habiskan ini, dan tinggalkan berandaku!"

"Baiklah." katanya sambil mengambil cangkir yang kusodorkan. Sebaliknya
ia
menyodorkan sendal kamarku.

Aku mengenakannya sambil mengawasi ia menempelkan cangkir ke bibirnya,
lalu
menyeruput teh yang masih agak hangat itu. Perlahan, dan sedikit sekali.
Saat selesai kulihat isi cangkir itu tidak terlihat berkurang.

Brengsek, makiku dalam hati. Sekali lagi aku tertipu. Dengan cara
minumnya
seperti itu, bisa lebih dari sepuluh kali tegukan ia baru menghabiskan
secangkir teh setengah penuh. Berapa banyak lagi tipuan Iblis yang lahir
dari kata-kata manusia sendiri?

"Terimakasih, hangatnya teh ini sangat melegakan hatiku yang sedang
sedih."
katanya sambil memegang cangkir itu dengan kedua tangannya, seperti
mencari
kehangatan di sana.

"Aku tidak akan termakan permainanmu Iblis." sahutku kasar. "Kebaikanku
memberikan teh, jangan kau artikan kelemahan. Jadi sebaiknya kau tetap
tutup
mulut, cepat nikmati dan habiskan teh itu, serta segera berlalu dari
sini.
Ini bukan rumah yang menerimamu dengan tangan terbuka."

Ia mengangkat tangannya sedikit menahan kata-kataku. "Kau orang baik.
Sepertinya kau juga orang taat. Tapi mengapa begitu kasar?"

"Kepada Iblis tidak ada larangan berkata kasar." sahutku.

"Begitukah?" tanyanya hampir pada dirinya sendiri. "Yang dilarang bukan
perbuatannya tapi kepada siapanya?"

Brengsek. Aku sadar kemana arah pertanyaannya. Lebih brengsek lagi,
gugatannya memang benar. Dalam banyak hal, perbuatan memang dilarang
bukan
atas perbuatannya, tapi pada siapanya. Membunuh pun jadi halal ketika
diletakkan pada orang yang pantas untuk dibunuh. Perkara siapa yang
kompeten
menentukan pantas-tidaknya, itu adalah perkara lain.

Semestinya hanya pemberi kehidupan yang punya kompetensi untuk mencabut
nyawa. Tapi bahkan TUHAN pun sepertinya menggunakan sistem perwakilan.
Kalau
tidak, bukan tangan malaikat yang mencabut nyawa manusia, tapi tangan
TUHAN
sendiri.

Jadi mungkin wajar pula kalau sebagian orang merasa jadi wakil TUHAN
untuk
mencabut nyawa orang lain. Alasan kafir sudah cukup untuk hilangnya
selembar
nyawa manusia. Walaupun sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan sosok
psikopat Jack The Ripper yang merasa jadi wakil TUHAN dan membunuhi
pelacur.


Ah, aku mengusir pikiran-pikiran yang muncul dalam benakku. Aku pasti
sudah
terjebak dalam permainan kata-kata si Iblis. Ia memang pandai. Sangat
pandai. Bodohnya aku yang terus membiarkannya berkata-kata.

"Tahukah kau mengapa aku sedih?" tanyanya.

"Kau hendak mencobai aku, Iblis?" sergahku. "Jangan kau coba-coba. Aku
tidak
akan beranjak dari keyakinanku untuk mengikutimu."

"Aku hanya bertanya," sahutnya. "Mestinya kau berempati pada mahluk yang
tengah kesusahan."

"Iblis kesusahan?" kataku sambil sedikit tertawa. "Tentu saja kau akan
kesusahan sejak kau menantang ALLAH! Dan tidak ada empati untuk mahluk
penentang ALLAH."

Aku sengaja mengatur nada suaraku agar terdengar sangat sinis.

"Empati. Memang kau siapa? Untuk korban kejahatan, korban bencana alam,
kaum
dhuafa, empati tentu saja wajib diberikan. Tapi untuk Iblis macam kau?
Untuk
manusia sampah masyarakat, penghancur tatanan sosial masyarakat seperti
bandar-bandar narkoba atau koruptor saja tidak ada empati untuk mereka.
Mereka bukan victim, bukan korban. Mereka adalah pelaku kejahatan.
Apalagi
kau sumber segala kejahatan manusia!"

"Bukankah manusia-manusia yang kau katakan itu adalah korban juga?
Korban
ketidakadilan sosial, korban penindasan politik, korban masyarakat?
Bukankah
melanggar hak asasi manusia kalau tidak ada sedikitpun empati untuk
mereka?"


Di relung-relung benakku, terbersit pikiran kalau sang Iblis ini mulai
terlihat belangnya. Lihat saja, ia tidak lagi menangis, dan mulai
mencoba
beretorika. Memang benar ajaran-ajaran kitab suci tentang watak sang
Iblis.
Bayangkan saja, ada Iblis berbicara soal Hak Asasi Manusia! Busuk benar
kan?


Persis seperti negara adikuasa yang membom negara lain atas nama hak
asasi
manusia. Persis seperti para pembela agama yang membunuhi manusia lain.
Walaupun untuk perihal korban, apa yang dikatakannya benar, tapi mana
mungkin aku terima begitu saja? Persetan dengan hak asasi manusia! Toh
konsep hak asasi semakin lama sudah semakin bias, seperti juga
konsep-konsep
demokrasi, kebebasan, hukum, semua alur dan letaknya sudah sangat campur
aduk dalam tatanan hidup masyarakat modern sekarang ini.

Entah kapan tepatnya, di masa depan komunisme mungkin malah akan
bersandingan dengan theis, dan bukan dengan atheis.

Tiba-tiba aku seperti tersadar. Tentu saja! Yang bertanggung jawab atas
campur aduknya semua itu, tentu adalah sosok di hadapanku ini! Sang
iblis!
Jadi bukan manusia yang keblinger. Bukan manusia yang jahat. Tapi sang
Iblis!

Bukan manusia yang korup, bukan manusia yang pemerkosa, bandar narkoba,
maling... Pikiranku terhenti sendiri. Benarkah? Benarkah bukan manusia
yang
menjadi penjahat? Kalau begitu manusia juga hanya victim? Victim dari
kejahatan si Iblis, penipuan si iblis, hasutan si iblis.

Iblis ini benar-benar hebat. Apa yang dilakukannya sesuai dengan
reputasinya. Lamunanku terhenti ketika Iblis dihadapanku mulai
berkata-kata
lagi.

"Dan katamu aku menentang Allah? Itu tidak benar!" Wajahnya lebih
menunjukkan raut bingung ketimbang marah.

"Aku cukup hapal cerita kitab suci tetang pemberontakanmu menantang
ALLAH.
Kalau kau menolak, dusta memang sudah menjadi sifatmu bukan?"

Ia tampak tidak memperdulikan cercaanku.

"Aku hanya menjalankan perintah ALLAH." katanya perlahan. "ALLAH
memerintahkanku untuk mencobai manusia, untuk menggoda manusia, menguji
sejauh mana ketaatannya pada ALLAH. Apakah itu berarti menentang ALLAH?"


Ia menoleh padaku dan melanjutkan kata-katanya, "Kalau Iblis menentang
perintah ALLAH untuk menguji manusia, apakah ada Iblis yang menggoda
manusia? Bukankah semua terjadi atas ijin-NYA? Mengapa manusia harus
membenci aku? Bukankah ini hanya just business and nothing personal."
katanya dengan raut tidak berdosa.

Sesaat aku ingin memakinya. Tapi ia melanjutkan lagi kata-katanya.

"Inilah yang aku sedihkan sebenarnya. Mengapa kalian manusia begitu
membenci
aku. Sedangkan aku hanya bekerja sesuai apa yang diberikan Allah padaku.
Apakah kalian tidak tahu kalau aku tidak berkuasa apa-apa atas kekuasaan
Allah?"

Aku kehabisan kata-kata. Benar-benar sulit melawan pemikiran dan
kata-kata
Iblis. Aku mencari-cari dalam benakku kata-kata dalam ayat suci untuk
menjawab sang Iblis.

Tapi otakku seperti buntu. Mestinya aku tidak hanya membaca -tanpa
memahami-
huruf- huruf itu setiap malam. Apakah ada yang bisa kugunakan untuk
melawan
kata-katanya? Kusadari kepercayaan diriku mulai runtuh saat aku tidak
kunjung menemukan jawaban yang ampuh.

Mungkin seharusnya ada rumusan untuk melawan iblis secara jelas. Untuk
menjawab godaan A, bacalah ayat A, untuk jenis godaan B, bacalah ayat B.
Pada siapa pula aku harus menuntut-nuntut hal seperti ini. Pada ulama?
Pendeta? Guru ngaji? Penginjil? Literasi dalam kitab suci tidak
diterjemahkan dalam rumusan ces-pleng model begini. Kita hanya
disodorkan pada dongeng-dongeng, cerita-cerita, hikayat-hikayat dan
harus menimba sendiri inti sarinya.

Berbondong-bondong manusia menjemput undangan sang Iblis karena
kehabisan
pemikiran untuk menyanggah pertanyaan yang dilontarkan sang Iblis.

Bagaimana cara melawan sosok Iblis dan pemikiran-pemikiran hebatnya?
Dengan
Iman? Hanya thok percaya pada kekuasaan ALLAH? Bagaimana
teknis-praktisnya?
Terpikir olehku satu jawaban : Menyebut nama ALLAH. Mungkin mestinya itu
yang aku lakukan, tapi alih-alih aku malah melontarkan satu kalimat
bentakan, "Hah..! Kau benar-benar raja Iblis. Kepandaianmu
memutarbalikkan
fakta memang menjadi ciri yang lekat dengan Keiblisanmu."

Ia terdiam. Kuharap bentakan itu cukup meneguhkan keimananku. Cukupkah?
Menunding orang lain jahat memang lebih mudah dilakukan. Perkara apakah
itu
akan mendudukan kita jadi orang yang sama jahat, itu lain soal. Yang
penting
harus ada penegasan, aku tidak sama dengan kau. Kau penjahat, aku bukan
penjahat. Kau maling, aku bukan maling. Kau penipu rakyat, aku bukan
penipu
rakyat. Pendek kata, kau Iblis, aku bukan iblis.

Pikiranku membangun puing-puing keyakinanku untuk menghadapi sang Iblis.
Kita perlu kepercayaan diri yang tinggi untuk melawan ketidakbenaran
bukan?
Tidak salah kalau kepercayaan pertama yang harus dimiliki adalah
mempercayai
kita berada di pihak yang benar. Apa yang kita lakukan adalah
benar-benar
benar. Tanpa itu kita akan selalu berada dalam ambang ambigu. Perkara
kebenaran itu versi kita pribadi, masa bodo lah. Toh yang kita lawan
adalah
sosok kejahatan, dajjal, sang Iblis.

Aku mulai tersenyum seiring tumbuhnya keyakinan baru. Kutatap wajahnya
lekat-lekat, saat Iblis itu mendongak dan bertanya tiba- tiba.

"Apakah kau tidak membenci malaikat pencabut nyawa?"

Ini seperti sebuah pertanyaan tolol. Mudah sekali menjawabnya, pikirku.

"Kenapa harus membenci? Ia malaikat! Tentara ALLAH! Mahluk suci yang
tidak
mau berpaling dari ALLAH. Tidak sepertimu!"

"Bukankah ia yang mencabut nyawamu?"

"Ia menjalankan itu atas perintah ALLAH! Itu tugasnya, Bodoh!" Makianku
akhirnya terlontar juga di atas ketidaksabaranku.

"Bukankah aku pun demikian? Aku hanya menjalankan tugas." sahutnya
perlahan.
"Entah apa kepercayaanmu terhadap ALLAH, tapi semestinya kau tahu bahwa
rencana ALLAH yang mendudukan manusia - iblis dan malaikat dalam
hubungan
seperti ini. Kita hanya menjalankan tugas kita masing-masing."

Aku terdiam. Percakapan ini pasti akan sangat panjang, dan penuh dengan
pertengkaran kalau dilanjutkan. Menyebalkan. Walau keyakinanku - bahwa
aku
adalah sang benar yang tengah melawan sang iblis- tidak surut, tapi aku
pikir perlu berpikir secara strategis untuk menghadapinya.

Tidak ada gunanya mengikuti perdebatan dengan Iblis. Bagaimana pun ia
Iblis
dan aku manusia. Apakah manusia berkuasa untuk mengalahkan Iblis?
Mestinya,
ya. Tapi kekuasaan itu entah derajatnya lebih rendah atau lebih tinggi
dari
kekuasaan sang Iblis untuk menggoda manusia. Aku tidak tahu, dan tidak
mau
berspekulasi.

Melawan kejahatan manusia saja kita perlu berstrategi, apalagi biang
segala
kejahatan ini. Aku pernah membaca di sebuah buku, gembong kejahatan Al
Capone pernah berkata, Jika kamu tidak bisa menang dengan bertarung
secara
fair, main kotor itu wajib, atau usahakan pihak ketiga menjalankan
pertarunganmu.

Saat ini tentu saja tidak ada pihak ketiga, karena hanya ada aku dan
sang
Iblis. Begitupula aku tidak akan bisa menang secara fair. Jadi
pilihannya
yang tersisa hanya main kotor.

Jadi aku berkata perlahan saja.

"Okelah, kau sedih karena manusia membencimu. Lalu apa maumu?"

Ia tampak bingung sendiri. Kepala bertanduknya menggeleng-geleng
perlahan.

"Aku... aku hanya ingin tidak dibenci. Itu saja."

"Bagaimana kalau kukatakan aku tidak membencimu. Apakah itu cukup
bagimu?"
sahutku dengan nada membujuk. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benakku.


"Kalau manusia tidak membencimu apakah kau akan terus menggoda manusia,
atau
kau akan pensiun menjadi Iblis?"

Mungkinkah manusia menjadi jalan keselamatan untuk sang Iblis? Sungguh,
prestasi besar kalau bisa begitu. Apakah ada bonus pahala khusus untuk
manusia yang bisa menghentikan karya sang Iblis di dunia? Tiket langsung
menuju surga rasanya pantas untuk ganjaran prestasi semacam ini.
Menumpas
kejahatan, terdengar heroik sekali kan? Walau dalam prakteknya
menggunakan
kejahatan lain, tapi gelar orang suci dan bonus tiket itu terlalu
menarik
untuk dilewatkan. Pantas saja begitu banyak seruan untuk menumpas
pemimpin
negara yang dinilai kafir.

Tiba-tiba ia berkata, "Kalau aku menjadi pengikut ALLAH yang setia,
apakah
manusia tidak akan membenci aku?"

Aku terkesiap sejenak. Ini pertanyaan sulit. Siapa manusia yang mau
percaya
bertobatnya sang Iblis? Kepercayaan itu barang mahal dalam dunia.

"Aku tidak tahu." jawabku. "Hati manusia tidak bisa terbaca semudah
membaca
tulisan dalam buku. Panjang-pendeknya akal manusia juga tidak terukur
dalam
dimensi yang mudah diukur. Lagipula mengapa kau begitu terganggu soal
benci-membenci ini?"

"Manusia memang begitu." katanya. Sedikit tersenyum ia melanjutkan.
"Kadang
Iblis lebih jujur dibandingkan manusia."

"Hah...!" sergahku pendek.

"Benar. Iblis tidak pernah menyangkal dirinya sebagai pembuat kejahatan.
Tapi manusia tidak demikian bukan? Di hadapan sang KHALIK - pun manusia
masih
bisa berdusta."

"Tidak di hari akhir. Di pengadilan akhirat nanti, tidak akan ada yang
mampu
berdusta ketika dihadapkan pada sang KHALIK." kataku yakin.

"Tapi ya, di dunia bukan?" sang Iblis menatapku dengan matanya yang kini
tidak berair lagi. "TUHAN, ALLAH tidak hanya menunggu di perhentian
terakhir. DIA menyertai manusia sepanjang hidupnya. Apakah kau tidak
merasakannya?"

Apakah aku merasakannya? Aku tidak tahu pasti. Kadang ada saat-saat
ALLAH
terasa begitu dekat. Tapi seringkali aku juga merasa tidak ada siapapun
di
dunia ini. Seperti kalimat dalam film alien-futuristik : we are all
alone.

"ALLAH tidak membutuhkan manusia untuk merasakannya. Ia pasti hadir."
Aku
terkejut sendiri dengan kata-kata yang terlontar tiba- tiba dari
bibirku.
Bagaimana pun, itu jawaban diplomatis yang bagus bukan? "Tapi manusia
sering
berdusta dalam doa, berdusta dalam karya, bicara, kata-kata dan
perbuatan."
kata Iblis.

"Atas bujukanmu tentu." sahutku pendek.

"Atas perintah ALLAH pula tentu." sahutnya tersenyum.

Brengsek, aku terjebak lagi. Kusadari upaya main kotorku untuk membujuk
sang
iblis telah gagal total. Tinggal satu cara menyelesaikan perdebatan
tidak
bermutu ini.

"Enough! Cukup. Jangan lagi tebarkan kebohongan-kebohongan di berandaku
ini.
Silahkan kau habiskan tehku, dan pergilah cepat. Dan satu lagi." kataku
dengan nada keras. "Jangan coba-coba kembali kesini. Lain kali aku akan
memakai sepatu boot." kataku mengancam.

Aneh tapi nyata, ancaman itu efektif. Sekali lagi aku teringat sebaris
kata-kata dari buku tentang gembong mafia Al Capone, "Kata- kata manis
dan
senjata akan mendatangkan lebih banyak hasil, dibandingkan kata-kata
manis."


Iblis itu meneguk teh dalam cangkir dengan satu gerakan. Ia mengulurkan
cangkir itu ke tanganku, tapi menahannya saat aku akan mengambilnya.

"Apakah kau masih membenci aku?"

Aku terdiam sesaat. Harus ada jawaban yang tuntas untuk sang Iblis. Jadi
aku
katakan saja, "Walaupun kita sama-sama mahluk ALLAH, tapi kita berbeda.
Membencimu adalah dalam koridor tugasku sebagai manusia dan penyembah
ALLAH. It is just business, nothing personal."

Ia terdiam. Lalu dalam sekejap ia hilang tak berbekas. Jam besar di
dalam
kamarku berdentang. Aku membereskan cangkir bekas sang Iblis, dan
kembali ke
tempat tidurku. Tepat saat aku menarik buku yang kubaca kepangkuanku,
pintu
kamarku terbuka.

Suster Mary masuk sambil membawa nampan peraknya. "Waktunya minum obat,
sir!" katanya sambil tersenyum dan menyodorkan sebutir prozac ke
bibirku.
(DBaonk)
* * * *

Glossary :
the thinker = patung terkenal karya Auguste Rodin yang terinspirasi
karya
besar Dante : Divine Comedy. Diletakkan di pintu masuk Museum Decoratie
Arts
di Paris, patung ini kabarnya menggambarkan sosok Dante sendiri sebagai
seorang pemikir.

Sith = Tokoh antagonis rekaan dalam film George Lucas Star Wars. Tokoh
ini
pertama kali muncul dalam episode pertama Star Wars (yang justru
diciptakan
setelah trilogi episode IV, V & VI).

just business - nothing personal = ungkapan dalam bahasa Inggris yang
menunjukkan tidak ada kepentingan pribadi melainkan hanya pekerjaan
semata.

enough = cukup.

prozac = obat yang biasa digunakan untuk penderita schizofrenia
(penderita
gangguan jiwa).
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
http://www.izzanabila.com
http://blog.intersat.net.id
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Sponsored Links

  #2 (permalink)  
Old 08-26-2005, 11:32 PM
Senior Member
In The Way To MasterIn The Way To Master
 
Join Date: Jun 2005
Location: North Of Djogdja
Posts: 166
Send a message via Yahoo to yoko_70
Yang ada dalam kutipan di atas adalah orang yang minum prozac alias orang yang mungkin sedang mengalami gangguan jiwa. Ia mampu memberikan jawaban dan tanggapan atas pertanyaan dari sang Iblis dengan jawaban yang seharusnya mampu diberikan oleh orang waras.
Sekarang bagaimana dengan kita ini, yang notabene sebagai orang waras, mampukan kita memberikan jawaban seperti itu?
Silahkan tanyakan hal tersebut kepada diri kita masing-masing.
__________________
Trying To Be MySelf
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 08-27-2005, 11:26 AM
Senior Member
In The Way To MasterIn The Way To Master
 
Join Date: Feb 2004
Posts: 72
Send a message via ICQ to ibnu Send a message via Yahoo to ibnu
Allah SWT berfirman "Tidak akan aku ciptakan Jin Dan Manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepadaku..."

Tugas kita sebagai manusia di dunia ini hanyalah beribadah kepadaNYA, maka segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini harus diniatkan karena ibadah kepadaNYA dan berada dalam aturan serta nilai ibadah tersebut.

Dalam surat Al-Baqarah pun dijelaskan bagaimana proses penciptaan adam, dan bagaimana iblis berani membangkang secara terang2an tugas yang diberikan kepadanya, jadi tidak perlu ragu akan Iblis, bagaimanapun iblis adalah musuh yang nyata bagi orang-orang yang beriman, dan mahkluk yang berani menentang perintah Allah SWT.
__________________
Istana yang paling megah adalah Keluarga Sakinah, Mawadah, Wa Rohmah : Perhiasan paling Indah di Jagad Raya ini adalah Wanita Solehah
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
  #4 (permalink)  
Old 08-30-2005, 06:19 PM
Senior Member
Rest To MasterRest To Master
 
Join Date: Jan 2003
Location: Moscow, 101000, ul.Kuznetskiy bridge, house 22
Posts: 292
Send a message via ICQ to hadibaroto Send a message via Yahoo to hadibaroto
tulisan yang sangat menarik.....
__________________
\"Audi, Vide, Tace\"
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Reply


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On

Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Ketika Iblis membentangkan Sajadah adhi Hikmah, Motivation and Inspired Story 2 06-08-2009 12:35 PM
Ibunda, Kenapa Engkau Menangis yoko_70 Hikmah, Motivation and Inspired Story 2 10-01-2005 03:34 AM
Ibunda,kenapa engkau menangis? divvo Hikmah, Motivation and Inspired Story 1 10-21-2004 07:50 PM
Seorang Pemimpin aan Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 10-04-2004 02:47 AM
Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali hadibaroto Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 07-12-2004 04:52 PM


All times are GMT +8. The time now is 05:08 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.6.7
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
SEO by vBSEO 3.3.0
Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009