|
Senandung Setapak Terjal
Senandung Setapak Terjal
-sekedar refleksi pribadi-
Tanah di mana aku tinggal sedang dilanda kekeringan. Negeri tempat aku dilahirkan sedang dilanda kemiskinan. Ketidakpuasan, kekecewaan, dan ratap kesedihan menjadi makanan sehari-hari untuk sebagian besar orang. Bagi mereka yang kaya, dalam lubuk hati terjujur, hidup hanya untuk mengejar harta; orang miskin pun juga, walaupun dengan cara yang berbeda.
Sungai di sini mulai mengering, hujan tak kunjung datang melelerkan duka. Harapan berubah menjadi kecemasan, cemas menjadi keputusasaan, dan putus asa itulah yang selalu mewarnai kehidupan.
Tempat berpijak yang dulu hijau sekarang retak, berubah warna menjadi coklat. Tanaman pun enggan bertumbuh, panas udara menyiksa hati, makin memiskinkan nurani.
Sekitar 3 tahun yang lalu aku pernah ke Desa Danan, Kabupaten Wonogiri. Suasana tak ubahnya seperti tempat tinggalku sekarang ini; panas gersang berhias retakan tanah ladang.
Saat itu waktu belum berhenti di tengah hari, jam masih kurang dari 12 siang. Dalam perjalanan banyak kutemui siswa SD berjalan kaki. Tentu pulang dari sekolahnya. Anak-anak itu berjalan melintas setapak terjal berdebu penuh batu. Namun tak ada raut putus asa di wajah mereka. Bersama teman sebaya, berjalan, tertawa bersama. Lebih kurang 4 kilometer jauhnya rumah mereka berada.
Anak-anak ini tinggal dalam sebuah lingkungan yang bagi banyak orang akan meniadakan harapan: tanah gersang, panas, penuh retakan. Hampir semua dari mereka hanya mempunyai orang tua dengan kehidupan pas-pasan. Tak ada mobil ber AC, kulkas, ataupun mainan mahal.
Namun cita-cita mereka begitu tinggi, walau yakin hanya sedikit yang mengerti bahwa ada kemustahilan besar menghadang. Tapi yang jelas anak-anak ini menikmati.
Kepolosan seolah mengalahkan kekhawatiran akan hari depan. Yang penting hidup hari ini dijalani. Biarlah esok menjadi milik esok dan lusa menjadi milik lusa.
Ada begitu banyak alasan yang bisa dilogika. Terutama karena mereka sangat jarang bersinggungan dengan hidup mewah, sehingga tak ada keputusasaan bila harapan itu tak tercapai; harapan menjadi kaya.
Kehidupan mereka – dan kawan-kawannya - boleh dibilang hampir sama. Keadaan seperti itu menjadi santapan sehari-hari. Dan disanalah terbentuk kerendahan hati untuk menikmati hidup yang telah diberi.
* * *
Saat ini banyak pribadi-pribadi berjuang, berjuang untuk menjadi orang lain. Aku ingin kaya raya seperti dia, aku ingin pintar seperti mereka. Itu memang baik! Tetapi kadang, apabila hal-hal tersebut tidak tercapai, manusia hanya akan memenuhi hidup dengan rasa kecewa, juga perasaan tidak puas dengan apa yang telah didapatnya. Kadang pula bersyukur hanya menjadi sebuah keharusan, bukan penghayatan iman yang mendalam dan terdalam.
Biasa tertulis kalimat : janganlah lupa untuk bersyukur . Tetapi jarang kita temui kata-kata : janganlah kita lupa untuk meminta. Mengapa? Karena kecenderungan manusia adalah hanya untuk meminta. Meminta ingin menjadi seperti apa yang dilihatnya. Memohon untuk dapat menikmati sebuah keadaan yang nyaman secara duniawi. Saat bersyukurpun, mari bertanya pada lubuk hati yang terjujur : apakah tujuanku bersyukur? Semoga saja bukan hanya menjadi jalan yang harus ditempuh sebelum meminta sesuatu dalam doa.
Hidup anak-anak di tanah retak itu perlu direnungkan. Apakah kita masih bisa menikmati hidup dan tertawa riang di dalam keadaan sekarang? Keadaan dunia yang dianggap sungguh gersang, jauh dari harapan. Janganlah kita hanya tersenyum saat tangan ini mampu menangkap mimpi dan kemudian bersungut-sungut saat terhempas dalam kesengsaraan.
Perjalanan usia terasa begitu dangkal, tidak mengenakkan orang lain jika hal ini dibiasakan. Apapun keadaan kita, Tuhan tetap begitu indah dengan keagunganNya.. Hidup ini limpahan rahmat. Kemiskinan serta ketiadaan hanyalah buah-buah pikiran manusia untuk membahasakan kecewa.
Kalau kita merasa miskin oleh rahmat, mengapa kita masih diberi hidup olehNya?
Semoga syukur itu selalu ada,
Bersyukur atas apapun keadaan kita.
*JKoen
__________________
Adalah kata kata yang memberi bentuk akan apa yang masuk dan keluar dari pribadi kita.
Adalah kata kata yang sanggup mengikat dua jiwa dengan cinta
Adalah kata kata yang mampu meretakkan dunia
Karena kata adalah senjata.
|