![]() |
|
|||||||
| Hikmah, Motivation and Inspired Story Kumpulan cerita dari berbagai sumber. Cerita atau kisah-kisah yang membangkitkan semangat hidup, motivasi, inspirasi, kebijakan, renungan, kata-kata bijak, cerita unik yang menarik, kisah teladan, kisah sukses dan lain-lain |
![]() |
|
|
LinkBack | Thread Tools |
|
||||
|
Nikmati Hidup!
Nikmati Hidup!
"Enggak mungkinlah, Mas," kata teman saya. Kemudian ia nyerocos bagaimana ia sebagai wartawan bisa menikmati hidup, sementara yang namanya tenggat atau deadline selalu saja mengejarnya. Di kantor, di gym, di kolam renang, bahkan di tempat tidur. Teman saya juga menggerutu tentang hal yang sama. "Gue jadi seles (sales person maksudnya) dikejar target, mengurus anak dikejar gurunya, enggak mengurus suami takut suami minggat. Kok ya bisa menyuruh menikmati hidup," katanya lagi. "Mbok sampean itu kawin dan bekerja sekaligus, punya anak sekaligus, dan punya mertua kayak harimau sekaligus," ujarnya lagi. Saya menyambar, "Mbok jangan pilih harimau." Ia menjawab lagi, "Wong cinta sama anaknya, mau diapain lagi." Balas saya lagi, "Jadi, sana kawin sama anak harimau?" Jawabnya sambil kesal, "Sudah… kamu minggat sana!" Saya memang sok berani menurunkan tulisan semacam ini. Judulnya pun seperti orang kebanyakan uang yang tak perlu kerja. Sementara itu, saya lajang yang tak hanya kerja, tetapi juga dikejar tenggat. Meski tak punya tanggungan lain, maksudnya istri dan atau anak, tetapi kegiatan membayar utang tiap bulan alias mencicil juga membuat kepala selalu nyut-nyutan. Mencicil apartemen dan kartu kredit, dan i- pod, dan laptop, dan ini, dan itu. Kalau dipikir-pikir ya salah saya juga, semua mau dibeli, segala mau dipunyai, sementara kemampuan finansial tak beda tipis dengan kertas HVS. Sok menikmati hidup Untuk bertanggung jawab terhadap barang-barang yang memuaskan ego itu, saya harus pontang-panting mencari kerja yang gajinya lumayan, supaya bisa melunasi kredit di sana-sini dan diusahakan bisa menabung. Menabung lima hari, maksudnya. Setelah itu yaaa.... jebol lagi. Kartu ATM sampai tipis dan banyak guratannya karena sering dikeluar-masukkan. Karena keinginan punya ini dan punya itulah, maka kerja keras harus dilakukan sampai saya harus kehilangan ginjal karena gaya hidup yang sak enak udelnya itu. Karena kerja, karena tenggat waktu, maka makan sekadarnya saja, kemudian badan lelah, tidur kurang karena lebih memilih ke Citos mendengarkan musik Mbak Bonita, putri Koes Hendratmo yang suaranya luar biasa, ketimbang memilih pulang ke rumah dan rebahan di ranjang. Luar biasa yang saya maksud, suaranya bagus bangget. Karena kata teman saya, luar dari biasanya, bisa juga berarti suara seperti saya. Seperti panci yang jatuh berguling di lantai. Teman saya pernah mengatakan begini, "Aku menikmati hidup dengan bekerja." Saya juga pernah mengatakan itu. Beberapa tahun lalu pekerjaan saya bisa mengantar saya nyaris mengitari jagat raya ini. Siapa coba tak bisa mengatakan pekerjaan semacam itu membuat hidup jadi nikmat? Ternyata, kalau mau jujur, saya tak pernah bisa menikmati jagat raya itu karena bepergian dalam kerja. Waktunya dibatasi, tak bisa ke sana, tak bisa ke sini. Perjalanan bisnis mengelilingi bumi ini yang membuat saya merasa saya menikmati hidup. Akan tetapi, kalau melihat apa yang saya lakukan, saya harus jujur saya selalu "tewas" begitu mendarat di Soekarno-Hatta. Esok hari langsung absen di kantor dan selalu ada saja suara dari ruang pimpinan, "Sudah deadline." Saya lalu pontang-panting lagi harus memilih dari sekitar tiga ribu foto hasil jepretan dari sekitar empat puluh peragaan busana di pusat-pusat mode. Itu semua belum memikirkan tulisan yang harus dibuat. Banting tulang Saya selalu kurang dan tak pernah merasa cukup. Sudah punya tiga jam tangan, perlu sepuluh jam tangan lagi. Punya satu apartemen, ingin apartemen satu lagi. Cita-cita punya mobil mewah tercapai, masih perlu mobil mewah satu lagi dari merek yang sama. "Tetapi, kan serinya beda," kata teman saya. Dan selalu saja ada alasan untuk memiliki semua itu. Dulu saya ingin sukses dan kerja keras agar bisa kaya dan bisa memonopoli. Untuk memenuhi cita-cita itu saya harus membanting tulang. Selamat tulang saya dibanting belum ada yang remuk. Dengan cita-cita setinggi langit itu saya kemudian menjadi jahat dan mencari siasat bagaimana cara menjatuhkan pesaing. Dulu saya mengatakan, ini nikmatnya hidup. Melihat pesaing kalah telak. Sekarang saya pikir, kok bisa disebut menikmati hidup dengan "membunuh", lha wong saya ini bukan orang dengan kelainan jiwa. Sampai pada suatu hari saya mengantar ayah saya keperistirahatannya yang terakhir di dalam oven superpanas alias diperabukan. Saya berdiri di hadapan oven besar dan supercanggih itu. Tiba-tiba oven terbuka dan peti —tentu termasuk ayah saya di dalamnya—masuk ke dalamnya, seperti pizza sedang dimasukkan ke dalam pembakaran. Saya terenyak. Bukan karena ayah saya tak bisa kembali lagi. Saya terenyak karena akhirnya manusia seperti saya dan Ayah cuma membawa badan yang tak fana dan pertanggungjawaban hidup bersama peti mati itu. Kerja keras puluhan tahunnya untuk mendapatkan ini dan itu, dan selalu tak pernah puas sudah mendapat ini dan itu, tak satu pun dibawanya ke dalam oven panas itu. Saya memang belum pernah mati, tetapi kok saya merasa kalau saja saya ini berprestasi luar dari biasanya, terkenal luar biasa, memonopoli luar biasa, paling guanteng luar biasa, pualing koaya luar biasa, semuanya itu tak bakal bisa digunakan untuk merayu Tuhan agar saya mendapat kapling besar dan prestisius di surga. "Iya kalau ke surga," celetuk teman saya. Setelah melihat kejadian di depan oven panas itu saya baru belajar beberapa minggu belakangan ini untuk bisa menikmati hidup dengan merasa cukup. Saya belum bisa yakin apa itu akan berhasil. "Aku kok pesimistis," kata teman saya. Ia kemudian menjelaskan mengapa ia pesimistis. "Buat lo, cukup itu artinya cukup punya berlian sekian karat, cukup punya tiga mobil, cukup punya tanah tiga ribu meter persegi, ya kan?" Ia masih menambahkan, "Cukup punya tiga yayang di tiga kota." Begini (Mungkin) Cara Menikmati Hidup 1. Belajarlah mensyukuri hal-hal kecil. Sebelum saya tinggal di apartemen, saya tinggal di rumah biasa dengan halaman cukup luas dan beberapa pohonnya yang rindang dengan burung-burungnya yang berkicau setiap pagi. Bertahun lamanya saya tak pernah bisa mendengarkan suara burung- burung itu karena kalau tidak bangun kesiangan sebab kelelahan, saya terburu-buru karena terlambat. Pada suatu akhir pekan saya tinggal di rumah. Kebetulan, kok ya bisa bangun pagi. Yang saya maksud pagi itu pukul delapan, bukan pukul enam. Sambil leyeh-leyeh di tempat tidur, saya mulai bisa mendengar orkestra alami itu. Saya harus mengakui, konser di pohon-pohon rindang itu membuat batin saya tenang dan menikmatinya. Acap kali hal- hal kecil ini tak saya pedulikan karena di kepala saya yang namanya menikmati hidup itu kalau saya bisa liburan di Mesir atau pesta pora di kapal pesiar. 2. Bekerjalah efektif dan jangan bekerja keras, dengan demikian Anda bisa punya waktu untuk menikmati hidup. Kalau saya seorang petugas satpam, ya saya cukup bekerja sebagai satpam dan bertanggung jawab penuh atas profesi saya itu. Saya tak perlu harus mencoba menjadi sopir. Untuk itu sudah ada orang yang bertanggung jawab. Sekali-kali Anda boleh membantu. Sekali-kali dan bukan tiap kali. Sebagai pimpinan perusahaan, Anda tak berhak menilai satpam Anda malas hanya karena ia tidak fleksibel. Saya pernah fleksibel, malah dimanfaatkan. Gaji saya tetap, tanggung jawab saya dua. Dulu saya bilang, "Enggak apa-apa kok, aku suka." Namun, waktu saya sakit, perusahaan tak mau lembur di rumah sakit bersama saya. Saya cukup diberi dinilai bagus karena mengerjakan dua pekerjaan dan lembur setiap saat sampai saya tak punya waktu mendengar orkestra di pepohonan itu. Tanya, gobloknya siapa? 3. Jangan ngoyo. Periksa kemampuan Anda. Kalau seperti saya IQ-nya jongkok masih mau memonopoli bisnis, seperti para konglomerat itu, saya akan tewas dalam beberapa bulan. Sebaiknya dengan kepandaian yang tidak sama dengan para pebisnis ulung itu saya mending main monopoli sambil ketawa-ketiwi dan makan keripik. Kalau mereka menikmati hidup dengan memonopoli, saya menikmati hidup bisa main monopoli. Bahkan, mungkin itu waktu yang tepat untuk belajar memonopoli, sebelum saya memonopoli dengan sebenar-benarnya. Dan, kalau tetap sudah belajar dan tak mengerti juga, yaaa… makan keripik saja. Itu juga nikmatnya luar biasa. *** Sumber: Nikmati Hidup! oleh Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi) http://aanbudi.wordpress.com |
![]() |
| Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests) | |
| Thread Tools | |
|
|
Similar Threads
|
||||
| Thread | Thread Starter | Forum | Replies | Last Post |
| Motto Hidup..... | @rdi | Ngakak Abis | 2 | 12-19-2005 01:25 AM |
| Hidup PSS | wise | Sports-station! | 4 | 06-15-2005 12:01 AM |
| Tujuan Hidup | aan | Hikmah, Motivation and Inspired Story | 0 | 12-04-2004 06:51 PM |
| PELAJARAN HIDUP | rio | Hikmah, Motivation and Inspired Story | 8 | 09-25-2004 06:08 PM |
| Hidup ini... | aan | Hikmah, Motivation and Inspired Story | 0 | 06-06-2004 06:09 AM |