![]() |
|
|||||||
| Hikmah, Motivation and Inspired Story Kumpulan cerita dari berbagai sumber. Cerita atau kisah-kisah yang membangkitkan semangat hidup, motivasi, inspirasi, kebijakan, renungan, kata-kata bijak, cerita unik yang menarik, kisah teladan, kisah sukses dan lain-lain |
![]() |
|
|
LinkBack | Thread Tools |
|
|||
|
DESISIF
DESISIF
Dalam artikel managerialship kita telah bahas bahwa pada posisi memimpin, tugas paling pokok adalah 1. Membuat keputusan 2. Membuat keputusan 3. Membuat keputusan Untuk menyegarkan kembali, saya akan buatkan rangkumannya. Karena dalam imbal wacana PKS saya memnyampaikan sepotong2. Desisif adalah membuat keputusan dengan cepat & tegas. Pemimpin hendaknya demikian tetapi dalam praktek sering kita jumpai yang tidak demikian. Misal, Mega dinilai sebagai kurang tegas. Kok bisa jadi pemimpin ? Itulah kehidupan, teori bisa tinggal teori. Dan itu tak bermakna teorinya salah. Secara umum SEBAIKNYA pemimpin itu desisif. Keputusan hendaknya 1. Dibuat dalam waktu se-pendek2nya bila memungkinkan. Jika tidak dan waktu mengijinkan, keputusan IDEALNYA dibuat sak mateng2nya, sesaksama mungkin. 2. Keputusan sebisa mungkin baik, benar, dan tepat. Tetapi keadaan ideal itu tak senantiasa tercapai. Kadang waktu terlalu mendesak, data2 tak lengkap, asumsi2 sulit diandalkan, dst, dst. Yang memaksa kita membuat keputusan dalam keadaan tak yaqin. Akibatnya kita dirundung takut salah. Biarpun salah, pemimpin harus membuat keputusan. Theodore Roosvelt =================== Membuat keputusan terbaik adalah sebuah keputusan yang tepat. Terbaik berikutnya adalah membuat keputusan, biarpun salah. Terburuk adalah tidak membuat keputusan apa2. =================== 3. Ada dua hal yang harus kita hindari walau dalam praktek susah sekale. a. ragu-ragu. b. menunda-nunda 'Waktu' tak selamanya bersahabat. Mereka menggedor2 tanpa ampun memaksa kita membuat keputusan. 4. Mempertahankan keputusan. Jangan terlalu mudah merobah keputusan. Jika keputusan salah, kita harus mau menerima konsekuensinya. Tetapi, jika memang keputusan salah, kita harus merobahnya. Jadi ada dua jenis orang. Satu kuat mempertahankan keputusan, satunya gesit merubah keputusan. Dalam konotasi positip, yang satu disebut konsisten & teguh pendirian. Satunya disebut adaptatip, flexible, atau luwes. Atau easy going. Dalam konotasi negatip, yang satu disebut keras kepala, kaku, ngotot, dll. Satunya disebut mencle mencla, plintut plintat, ésøk delé søré témpé. Contoh : Kiai Dur dulu sekali mendukung mbak Tutut. Lantas mendukung Mega. Tahu2 mendukung wudhelé déwé. Sudah begitu ia terus2an menuding Amien sebagai ésøk delé søré témpé. Saking kesalnya Amien membalas : Kiai Dur itu ésøk delé søré keju. .... ihik ![]() Dalam kehidupan orang2 macam Kiai Dur buanyak dan sering bikin kita kesal. Bagaimana menghadapi orang2 seperti itu ? Jika penting upayakan BLACK on WHITE atau tertulis. Biarpun hanya sekedar menyerahkan dokumen, mintak tanda terima. Jika ia mlintir, itu bisa dipergunak-ken. Dalam bisnis & M, itu prosedur standar. Yang bagi saya menjemuken. Basis M adalah TIDAK PERCAYA, berasumsi bahwa pihak lain sifatnya ésøk delé søré témpé. Dalam B, bisa saja transaksi milyaran cukup dengan jabat tangan. Paling banter secarik kertas berisi catatan jumlah & tanggal. Itu thok. M tidak begitu. Dokumennya ber-bantal2. Njelèhi ! Tetapi itu harus dilakukan. 5. Logis & Obyektip. Keputusan hendaknya rasional ibn logis. Walau kadang tak selalu mudah. Ada faktor2 personal, sentimental, emosional, preferensi, dll, campur aduk ndak karu2an. Kesimpulan : dalam memimpin hendaknya DESISIF-LOGIS-OBYEKTIP-TEGAS Kondisi ideal : plus SAKSAMA, penuh perhitungan, matang, dll. Tetapi, jika waktu sulit diajak kompromi, ini menjadi prioritas kedua. Yang harus dihindari adalah tidak desisif, lamban, me-nunda2, ragu2, gegabah, dan terlalu sering merubah keputusan. Ada yang alamiah, dari sononya begitu tetapi ada yang harus melalui proses pembelajaran. |