Intersat Forum  


Go Back   Intersat Forum > Forum Bebas > Hikmah, Motivation and Inspired Story
Home Register Members List Calendar Kuis Search Today's Posts Mark Forums Read

Hikmah, Motivation and Inspired Story Kumpulan cerita dari berbagai sumber. Cerita atau kisah-kisah yang membangkitkan semangat hidup, motivasi, inspirasi, kebijakan, renungan, kata-kata bijak, cerita unik yang menarik, kisah teladan, kisah sukses dan lain-lain

Reply
 
LinkBack Thread Tools
  #1 (permalink)  
Old 09-28-2004, 11:27 PM
aan's Avatar
aan aan is offline
Senior Member
-: Master :--: Master :-
 
Join Date: May 2002
Location: Jl. Tentara Rakyat Mataram, Badran Yogyakarta
Posts: 868
Send a message via ICQ to aan Send a message via Yahoo to aan
Pasangan Jiwa

Andri telah beranjak dewasa. Sudah saatnya ia mencari gadis yang baik
untuk dijadikan istri. Tapi sampai saat ini, ia belum juga berhasil.
Bukan suatu hal yang aneh. Ia memang terlalu mempertimbangkan bibit-
bebet-bobot calon istrinya. Maka, saat Musim panas mulai bertiup, Andri melakukan perjalanan ke Yogya

Di tengah perjalanan, Andri memutuskan untuk beristirahat di sebuah
rumah penginapan yang berada di Sekitar Malioboro. Kebetulan ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu. Maka Andri tak segan untuk menceritakan maksud perjalanannya itu. Seperti gayung bersambut, temannya menyarankan Andriuntuk mencoba melamar anak gadis keluarga Surya.
Menurut temannya itu, keluarga Surya adalah keluarga yang status sosial
ekonominya sederajat dengan Andri. Lagipula, gadis itu sangat cantik
dan terpelajar. Andri girang bukan main.

Sebelum berpisah, teman Andri berjanji untuk mempertemukannya dengan 'Pak Comblang' dari keluarga Surya , esok pagi. Pak Comblang inilah yang akan meneruskan data pribadi Andri kepada gadis tersebut. Bila keluarga itu berkenan menerimanya, maka Andri akan segera berkenalan, sebelum lamaran resmi atau khitbah diajukan.

Kegembiraan yang meluap-luap memenuhi rongga dada Andri.
Dibentangkannya sajadah, lalu ia mulai sholat istikhoroh. Baru kali ini
Andri merasa melakukannya dengan sepenuh hati, dengan kepasrahan yang murni ... Ah. Tak terasa air mata Andri berjatuhan. Diam-diam
menyelinap suatu penyesalan. Mengapa ia baru bisa khusyu' dan dapat
merasakan ikatan yang erat dengan Allah, ketika ada masalah berat dan
serius yang harus ia hadapi ? ...

Waktu subuh belum lama berlalu, namun Andri telah bersiap untuk pergi
menemui Pak Comblang. Makin cepat makin baik, pikirnya. Di bawah sinar bulan sabit yang kepucatan, Andri bergegas menuju tempat itu. Fajar belum juga merekah ketika Andri sampai di tempat yang dijanjikan. Sepi sekali. Nyanyian jangkrik perlahan menghilang. Andri benar-benar
sendirian. Di tengah kegamangan hatinya, Andri mencoba mengitari
bangunan itu. Seperti sebuah musholla kecil. Cahaya lilin yang memantul
di sela-sela kaca jendela, membangkitkan rasa ingin tahunya.

Andri berjingkat ke arah jendela. Ditempelkan matanya ke celah-celah
...

"Hei, masuklah!"

"Jangan mengintip seperti itu!"

Andri tersentak. Rasa malu, kaget dan takut berbaur menjadi satu.

"Ayo, masuklah. Jangan takut!"

Suaranya lebih lembut namun tetap berwibawa. Andri ragu-ragu. Tetapi
rasa ingin tahu sedemikian menyerbunya. Akhirnya ia memberanikan diri
melangkah ke dalam.

"Kemarilah!" ajaknya tanpa melihat muka Andri.

Andri memperhatikan dengan penuh seksama. Laki-laki itu belum terlalu
tua, tapi wajahnya memancarkan kebaikan yang seolah-olah bersumber dari
seluruh aliran darahnya. Bijak, arif, lembut namun tegas. Tentulah ia
pengemban amanah yang luar biasa, pikir Andri

Laki-laki itu duduk di atas permadani sambil membaca sebuah buku. Lalu
ia berkata perlahan: "Belum saatnya Andri .... Belum saatnya."Andri
menatap wajahnya dengan penuh kebingungan.

Lalu laki-laki itu kembali melanjutkan. Kali ini ditatapnya Andri
dengan ketajaman jiwa. "Kau tahu? Semenjak seseorang ada dalam kandungan
ibunya, Allah Ta'ala telah menetapkan 3 hal untuknya. Kau sudah tahu
bukan! Salah satu di antaranya adalah jodohnya.. pasangan hidupnya."

"Hmmmm..... seperti benang sutera."

"Ya, seperti benang sutera yang diikatkan di antara mereka berdua.
Kepada kaki laki-laki atau bayi perempuan yang lahir dan ditakdirkan
berjodohan satu dengan yang lainnya. Begitu simpul diikatkan, maka tak
ada suatu hal pun yang dapat memisahkan mereka."

"Salah seorang diantara mereka mungkin saja berasal dari keluarga yang
miskin, sedang yang lainnya dari keluarga yang kaya. Atau mereka
terpisah bermil-mil jaraknya, bahkan mungkin ada yang berasal dari dua
keluarga yang saling bermusuhan. Tapi pada akhirnya, bila saatnya telah
tiba, mereka akan menjadi suami istri. Tak ada suatu hal pun yang dapat
mengubah takdir itu." Laki-laki itu terdiam sesaat. Andri kini sudah
sepenuhnya duduk terpekur di hadapannya. Kalimat demi kalimat
disimaknya dengan seksama.

"Jodoh adalah masalah yang paling ajaib dan paling gaib. Suatu rahasia
kehidupan yang tak akan pernah tuntas untuk dimengerti. Bayangkan. Dua anak yang berbeda, tumbuh di lingkungannya masing-masing. Sebagian besar mungkin tidak menyadari kehadiran satu dengan lainnya. Tapi bila saatnya tiba, mereka akan bertemu dan mengekalkan ikatannya dalam tali pernikahan."

"Kalau ada wanita atau laki-laki lain yang muncul di antara keduanya,
ia akan terjatuh. la tak akan mampu melewati bentangan tali sutera yang
telah diikatkan pada mereka. Ah, kau pasti pernah melihat orang yang
patah hati bukan? Hhh, sebagian orang yang bodoh dan tak kuat menahan cobaan, memilih mati daripada patah hati. Bukan takdir yang memilihnya untuk bunuh diri. Itu pilihannya sendiri, ia cuma tak sabar menanti saat pertemuan itu datang."

"Ketahuilah,Andri . Masalah jodoh adalah rahasia Allah. Kau harus dapat
berdamai dengan takdirmu."

"Bagaimana dengan aku!" sela Andri. "Apakah aku akan berhasil menikah
dengan anak gadis dari keluarga
Surya? Apakah ia takdirku?" tanyanya tak sabaran. Laki-laki itu
tersenyum.

"Belum saatnya Andri. Belum saatnya. Suatu saat nanti, kau akan menikah dengan seorang gadis shalihat, cantik dan pintar. Pun dari keluarga yang terhormat. Kelak, setelah menikah, kalian akan mempunyai anak laki-laki. Dan anakmu akan menjadi pedagang yang terpelajar. Ia dermakan kekayaannya untuk agama Allah. la juga akan menjadi anak yang senantiasa memelihara kedua orang tuanya. Meskipun kalian sudah tua renta nanti. Hal ini tak lepai dari peranan ibunya dalam mendidik anak itu."

"Tapi itu nanti. Bila calon istrimu telah mencapai usia 17 tahun.
Sayangnya, saat ini dia masih berumur 7 tahun."

"Hah!" Andri kebingungan. "Jadi saya harus membujang selama 10 tahun
?!" Andri menatap tak percaya. Ia berharap semua hanya kemungkinan
karena ia salah dengar saja. Andri mencari kesungguhan di sana. Tapi
semua sia- sia. Air muka laki-laki itu tak berubah sedikit pun. Dan
Andri menyadari semua adalah kebenaran.

"Kalau begitu, di mana dia sekarang? Dimana saya dapat menemui calon
istri saya? Tolonglah?!" Andri memohon padanya. "Oh, gadis itu tinggal
dengan wanita penjual sayur. Tak jauh dari sini. Setiap pagi, wanita
itu datang ke pasar dan menjajakan sayurannya di sebelah kios ikan."
Kukuruyukkkkk ... !! Suara nyaring ayam jantan memecah keheningan. Andri tersentak.

Kukuruyukkkkk...! ! Kokok nyaring ayam jantan membangunkan Andri dari tidurnya. Ah, rupa-rupanya ia tertidur di atas sajadah. Alhamdulillah,
waktu subuh belum habis. Andri bersegera mengambil wudhu. Sehabis
sholat subuh,Andri kembali teringat mimpinya. Seolah semua menjadi
teka-teki. Andri belum tahu apakah harus menganggapnya sebagai jawaban atas sholat istikhorohnya atau tidak. Untuk mcnyingkap tabir mimpi itu, cuma ada satu cara yang bisa dilakukannya: mencari gadis kecil yang katanya calon istrinya itu!

Lalu Andri pun bergegas ke pasar terdekat. Sepanjang jalan ia berdoa
dan berjanji. Berdoa agar calon istrinya memang benar-benar baik bibit,
bebet dan bobotnya. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam mimpi. Dan
berjanji untuk menerima takdirnya dan berusaha menjadi muslim yang
baik. Lebih baik dari kualitasnya sekarang. Fajar telah lama merekah
saat Andri tiba di sana. Orang-orang mulai melakukan kegiatannya.
Pembeli mulai berdatangan. Ramai. Namun belum seramai satu jam yang
akan datang. Maka Andri lebih leluasa untuk mengamati sekitarnya.
Matanya berkeliling mengitari pasar, lalu tertumbuk pada sosok kecil di
samping kios ikan.

Wanita itu tua, kotor, lusuh. Kumal. Rambutnya telah keabu-abuan.
Dengan sebelah mata tertutup lapisan katarak, ia duduk di selembar alas
sambil menggendong bocah kecil di dadanya. "Oh, tidak!! Bagaimana
mungkin?! Ini pasti kekeliruan!"Andri menatap kembali bocah terlantar
yang kurus kering itu. Hatinya hancur. Ah, mimpi semalam benar-benar
hanya bunga tidur.

Andri kembali ke penginapannya dengan hati lesu. Kali ini bukan saja ia
kecewa karena calon istrinya ternyata hanya seorang bocah gelandangan,
tapi juga karena 'Pak Comblang' dari keluarga Surya tidak datang pada
pertemuan yang ia janjikan. Tanpa suatu penjelasan apapun. Ah, sudah
jatuh dari tangga, tertimpa genteng pula!

Saya adalah seorang yang terpelajar. Sudah selayaknya saya mendapatkan seorang gadis dari keluarga terhormat. Semakin lama Andri memikirkan hal tersebut, semakin jijik ia membayangkan kemungkinan menikahi bocah kumal itu. Benar-benar menggelikan. Andri khawatir hal tersebut benar-benar akan terjadi. Dan ia tidak dapat tidur semalaman.

Keesokan hatinya. Andri pergi ke pasar bersama dengan pelayan setianya.
Andri menjanjikan imbalan yang sangat besar apabila ia berhasil membunuh bocah kumal itu. Andri dan pelayannya berdiri di belakang pembeli. Begitu kesempatan datang, pelayan Andri menikamkan pisaunya ke arah si anak, lalu mereka kabur. Bocah kecil itu menangis dan wanita buta yang menggendongnya berteriak-teriak: "Pembunuh! Pembunuh!" Kegemparan segera menyebar ke seluruh penjuru pasar.

Sementara itu, Andri dan pelayannya telah lenyap dari tempat kejadian.
"Kau berhasil membunuh dia?" tanya Andri terengah-engah. "Tidak," jawab pelayannya. "Begitu saya menghunjamkan pisau ke arahnya, anak itu berbalik secara tiba-tiba. Saya rasa saya hanya melukai mukanya. Dekat alisnya."

Andri segera meninggalkan penginapan. Kejadian itu dengan segera
terlupakan oleh masyarakat sekitar. Ia kemudian pergi ke arah Barat
menuju ibukota. Karena kecewa dengan kegagalan pernikahannya, Andri
memutuskan untuk berhenti memikirkan perkawinan. Tiga tahun kemudian Andri dijodohkan dengan gadis yang mempunyai reputasi baik yang berasal dari keluarga Hartono. Sebuah keluarga yang cukup terkenal di masyarakat sekitar. Anak gadisnya terpelajar dan sangat cantik.

Semua orang memberi selamat pada Andri. Persiapan pernikahan tengah
dilangsungkan, ketika suatu pagi Andri menerima berita yang menyakitkan. Calon istrinya melarikan diri dengan laki-laki yang dicintainya. Mereka berdua telah menikah di kota lain. Selama dua tahun Andri berhenti memikirkan pernikahan. Saat itu ia berusia dua puluh delapan tahun. Ia berubah pikiran tentang mencari pasangan dari masyarakat yang sekelas dengannya; seorang gadis kota terpelajar.

Maka Andri pergi ke pedesaan, mencari suasana baru. Di desa, Andri
menghabiskan waktu dengan mempelajari buku-buku. Suatu hari ia membawa bukunya ke sungai di dekat ladang, agar lebih nyaman membacanya. Tanpa sengaja ia melihat gadis desa yang sedang memanen kentang. Andri jatuh hati padanya dan bersegera menemui orang tua gadis itu. Gayung bersambut, gadis itu menerima lamarannya. Maka Andri bergegas ke kota untuk membeli perhiasan dan baju sutera serta segala persiapan pernikahan. Selama beberapa hari, Andri berkeliling mengunjungi saudara-saudaranya untuk mengabarkan berita gembira itu.

Seminggu kemudian ia kembali ke desa. Tapi yang ditemuinya hanya kabar buruk tentang sakitnya sang calon. Andri bersedia menunggu sampai ia sembuh. Sampai setahun hampir berlalu, penyakit calon istrinya malah semakin parah. Gadis itu kehilangan seluruh rambutnya dan menjadi buta.
Ia menolak menikahi Andri dan berpesan pada orang tuanya untuk meminta Andri melupakan dia. Ia mohon agar Andri mencari gadis lain yang layak untuk dijadikan istri.

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Andri mendapatkan calon yang sempurna. Bukan saja ia cantik dan masih muda, tapi juga pencinta buku dan seni. Tak ada rintangan, khitbah pun segera dilangsungkan. Tiga hari sebelum pernikahan, gadis itu terjatuh dari tangga dan mati.
Sepertinya nasib mengolok-olokkan Andri.Andri Ku menjadi fatalis. Ia
tidak lagi peduli pada wanita, ia hanya bekerja dan bekerja. Sekarang
ia bekerja di kantor pemerintahan di Yogya. Mengabdikan diri pada tugas
dan sama sekali berhenti memikirkan pernikahan. Tapi ia bekerja dengan
sangat baik, sehingga atasannya, Hakim Sulaiman, terkesan pada dedikasi dan kesungguhannya. Lalu mengusulkan Andri untuk menikahi keponakannya. Pembicaraan itu sangat menyakitkan Andri.

"Mengapa Tuan mau menikahkan keponakan Tuan pada saya! Saya terlalu tua untuk menikah."

Pejabat itu menasehati Andri tentang keburukan membujang. Lagipula
menikah adalah sunnah Rasulullah. Maka Andri menyetujuinya, meskipun ia sama sekali tidak antusias. Andri benar-benar tidak melihat istrinya
sampai pernikahan benar-benar selesai dilangsungkan.
Istrinya ternyata masih muda, Andri lega melihatnya. Tingkah lakunya
sangat baik dan Andri harus mengakui bahwa ia adalah istri yang sangat
baik. Taat, sholihat dan selalu menyenangkan. Sama sekali tidak ada
alasan untuk tidak menyukainya.

Bila di rumah, istrinya selalu menata rambut dengan cara yang khas,
sehingga menutupi pelipis kanannya. Menurut Andri, dengan tata rambut
seperti itu istrinya kelihatan sangat cantik, tetapi ia agak heran. Tak
kurang dari satu bulan, Andri telah benar-benar jatuh cinta kepadanya.
Suatu saat ia bertanya, "Mengapa dinda tidak mengganti gaya rambut
sekali-kali? Maksudku, mengapa dinda selalu menyisirnya ke satu arah?"

Istri Andri menyibakkan rambutnya dan berkata, "Lihatlah!" Ia menunjuk
ke luka di pelipis kanannya.

"Bagaimana bisa begitu?"

"Aku mendapatkannya saat berumur tujuh tahun. Ayahku meninggal di
kantornya, sedangkan ibu dan abangku meninggal dunia pada tahun yang
sama. Kemudian aku dirawat oleh ibu susuku. Kami mempunyai rumah di
dekat Gerbang Selatan Yogya, dekat kantor ayahku. Suatu hari, seorang
pencuri tanpa alasan apa pun, mencoba membunuhku. Kami sama sekali
tidak mengerti, kami tidak pernah punya musuh. Ia tidak berhasil, tapi
ia meninggalkan luka di kepala sebelah kananku. Karena itulah aku selalu
menutupinya darimu."

"Apakah ibu susumu hampir buta?"

"Ya. Kok tahu?"

"Akulah pencuri itu. Ah, tapi bagaimana mungkin! Semua begitu aneh.
Semua terjadi, seperti ada yang telah mentakdirkan."

Andri kemudian menceritakan semuanya. Bermula dari mimpinya setelah ia sholat istikhoroh, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Istrinya juga
bercerita, ketika ia berusia sembilan atau sepuluh tahun, pamannya
menemukan ia di Sung-Cheng dan mengambilnya untuk tinggal bersama
keluarganya di Shiang-Chow.

Akhirnya mereka menyadari bahwa pernikahan mereka adalah sebuah takdir yang telah digariskan Allah Ta'ala. Andri menangis. Ia malu pada
Penciptanya. Malu pada kesombongannya untuk menentang takdir. Ah ...
pada saat itulah, Andri menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Tapi kenapa ketika ia mendapatkan petunjuk, ia malah mengingkarinya ?

Saat itu juga, Andri melakukan sholat taubat. Untuk menjadi mukmin yang baik. Begitulah, kasih sayang di antara mereka kian tumbuh subur.
Setahun kemudian lahirlah anak laki-laki. Istri Andri mendidiknya
dengan sangat baik. Setelah dewasa, ia menjadi seorang yang terpelajar.
Usahanya di bidang perdagangan maju pesat. Ia sangat penyantun dan
terkenal kedermawanannya.

Ketika sang anak menjadi gubernur, Andri telah lanjut usia. Anak dan
istrinya tetap setia memelihara dan mencintainya. Di tempat mereka
pertama kali bertemu, empat belas tahun sebelum pernikahan, anak Andri membangun tempat peristirahatan untuknya.

"Dan segala sesuatu kami jadikan berjodoh-jodohan, agar sekalian kamu
berpikir." (QS 51 : 49).

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. 30:21)

"Jangan mengharap istri berakhlak Fatimah bila engkau belum bisa berakhlak seperti Ali" (by Unknown)
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
http://aanbudi.wordpress.com
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Reply



Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On

Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
PASANGAN DARI TUHAN pesan_tuhan Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 07-08-2004 04:25 AM


All times are GMT +8. The time now is 03:46 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.6.7
Copyright ©2000 - 2009, Jelsoft Enterprises Ltd.
Search Engine Friendly URLs by 3.0.0