Intersat Forum  


Go Back   Intersat Forum > Forum Bebas > Hikmah, Motivation and Inspired Story
Home Register Members List Calendar Kuis Search Today's Posts Mark Forums Read

Hikmah, Motivation and Inspired Story Kumpulan cerita dari berbagai sumber. Cerita atau kisah-kisah yang membangkitkan semangat hidup, motivasi, inspirasi, kebijakan, renungan, kata-kata bijak, cerita unik yang menarik, kisah teladan, kisah sukses dan lain-lain

Reply
 
LinkBack Thread Tools
  #1 (permalink)  
Old 10-04-2004, 03:13 AM
aan's Avatar
aan aan is offline
Senior Member
-: Master :--: Master :-
 
Join Date: May 2002
Location: Jl. Tentara Rakyat Mataram, Badran Yogyakarta
Posts: 868
Send a message via ICQ to aan Send a message via Yahoo to aan
Guru

Menjadi guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian,
dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam
menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik,
tapi juga mengajarkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu
menjalankannya.

Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi
anak-anak yang mempunyai "keistimewaan". Dan saya, merasa beruntung
sekali dapat menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja.
Ada kenikmatan tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar
belakang Cerebral Palsy (sindroma gangguan otak belakang).

Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah
kelas khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas
persiapan, sebuah kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC
Jakarta. Lazimnya, anak-anak disana berumur antara 9-12 tahun, tapi
kemampuan mereka setara dengan anak berusia 4-5 tahun, atau kelas 0
kecil.

Saat hadir disana, kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain
susun bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan
hentakan-hentakan kepala yang konstan dari mereka. Ada pula
tangan-tangan yang kaku, yang sedang menyusun keping-keping diagram.
Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik. Riuh. Bangku-bangku khusus
berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian anak yang beradu
dengan lantai.

Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat
melihat seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak
disana. "Mari masuk, duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho
bikin huruf," begitu panggilnya kepada saya. Saya berjalan, melewati
anak-anak yang masih sibuk dengan tugas mereka. Ah benar saja, si Abang,
anak berusia 11 tahun yang mengalami Cerebral Palsy dengan pembesaran
kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya melonjak-lonjak,
tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan kepandaiannya
menyusun huruf.

Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya
tersenyum. Dia tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak
malu lagi dibantu menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel,
begitu yang kami lakukan. Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia
pun kini tampak bergayut di tangan saya. Tanpa terasa, saya mengelus
kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa damai dan hangat.

Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua
anak disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti
susunan-susunan gambar. Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil
sesekali mengajak mereka tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut
ujung-ujung jemari lemah itu. Namun, tak pernah ada keluh, dan marah
yang saya dengar.

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah
membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku
masing-masing. Dduh, damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan
posisi serapih-rapihnya. Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan
polos kearah depan, saya yakin, membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru
pun mulai memimpin doa, memimpin setiap anak untuk mengatupkan mata dan
memanjatkan harap kepada Tuhan.

Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali
melihat mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama
"malaikat-malaikat" kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak
tak berarti dibanding dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini,
mereka bergerak, berbaris menuju pintu keluar. Tampak satu persatu kursi
roda bergerak menuju ke arah saya. Ddduh, ada apa ini?

Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam,
mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya,
sambil berkata, "Selamat siang Pak Guru.." Ah, perkataan yang tulus yang
membuat saya melambung. Pak guru...Pak Guru, begitu ucap mereka satu
persatu. Kursi roda mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya
menuju ke arah saya. Derak-derak itu kembali membuat saya terharu,
membayangkan usaha mereka untuk sekedar mencium tangan saya.

Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya
bergerak ke samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu
keluar. Dalam diam saya berucap, "..selamat jalan anak-anak, selamat
jalan malaikat-malaikat kecilku..." Saya membiarkan airmata yang menetes
di sela-sela kelopak. Saya biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan
perasaan haru dan bangga saya. Bangga kepada perjuangan mereka, dan juga
haru pada semangat yang mereka punya.

***

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan
pekerjaan yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang
memancar, juga pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang
membaktikan diri. Sebab mereka memang bukan para pesohor, bukan pula
bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip
cahaya kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah
memancar pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang
mereka lakukan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari
setiap hati anak-anak didik mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita
belajar lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti,
belajar mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita
mengerti tentang banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak
berlebihankah jika kita menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah
menjadi guru. Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil
Anda dengan sebutan itu, dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi
hati Anda. Ada sesuatu yang berbeda disana. Cobalah. Rasakan.
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
http://aanbudi.wordpress.com
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Reply



Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On


All times are GMT +8. The time now is 03:32 AM.


Powered by vBulletin® Version 3.6.7
Copyright ©2000 - 2008, Jelsoft Enterprises Ltd.
Search Engine Friendly URLs by 3.0.0