Intersat Forum  


Go Back   Intersat Forum > Forum Bebas > Science 'n Art
Home Register Members List Calendar Kuis Search Today's Posts Mark Forums Read

Science 'n Art Diskusi paling borink 'N garink sedunia demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia....

Reply
 
LinkBack Thread Tools
  #1 (permalink)  
Old 06-08-2005, 03:31 PM
aan's Avatar
aan aan is offline
Senior Member
-: Master :--: Master :-
 
Join Date: May 2002
Location: Jl. Tentara Rakyat Mataram, Badran Yogyakarta
Posts: 870
Send a message via ICQ to aan Send a message via Yahoo to aan
Cermin Sikap Minimalis Warga Jakarta

Menyedihkan...how can we live in the city like that..crap!!
________________________________________________

Selasa, 07 Juni 2005
Ketika Supriono Harus Menggendong Sendiri Jenazah Anaknya
Cermin Sikap Minimalis Warga Jakarta

MINGGU (5/6) lalu Supriono (3, pemulung yang biasa mangkal di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, harus menggendong jenazah anaknya, Khaerunisa (3), yang meninggal karena penyakit muntaber dari Instalasi Pemulasaran Jenazah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pasalnya, dia tidak punya uang untuk menyewa mobil jenazah guna membawa jenazah anaknya itu ke pemakaman.

HINGGA sekarang belum diketahui ke mana Supriono membawa jenazah Khaerunisa. Kepada petugas Instalasi Pemulasaran Jenasah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan sejumlah orang yang ditemuinya Minggu petang, Supriono mengaku akan menguburkan jenazah anaknya di Kramat, Bogor.
Namun, ketika dicek, tidak ada jenazah bernama Khaerunisa yang dimakamkan di kawasan Kramat, Bogor, pada Minggu dan Senin kemarin.

Supriono sendiri juga "hilang seperti ditelan bumi". Sejumlah pemulung yang ditemui Kompas di kawasan Cikini tidak ada yang mengenalnya. "Tidak ada orang bernama Supriono di sini. Namun, saya akan berusaha mencarinya karena orang di sini namanya sering lain-lain," kata Bubun, pemulung yang biasa mangkal di Cikini.
Terlepas di mana sekarang Supriono berada dan jenazah Khaerunisa dimakamkan, peristiwa Minggu lalu seolah puncak dari penderitaan yang selama ini mereka tanggung.
Penderitaan Suprino, Khaerunisa, dan kakaknya, Muriski Saleh (6), sudah terjadi ketika mereka harus menjadi pemulung yang setiap hari berpenghasilan Rp 10.000. Penghasilan sebesar itu membuat Supriono yang baru cerai dengan istrinya hanya mampu satu kali membawa Khaerunisa ke puskesmas untuk mengobati penyakit muntaber yang dideritanya.

Tidak tuntasnya pengobatan yang diterimanya membuat Khaerunisa meninggal pada Minggu (5/6) sekitar pukul 07.00. Anak itu meninggal di dalam gerobak pemulung milik ayahnya yang sedang mangkal di sekitar Manggarai.
Karena saat itu Supriono hanya memiliki uang Rp 6.000, sambil membawa gerobak yang berisi mayat Khaerunisa, dia lalu mengajak Muriski ke Stasiun Tebet. Rencananya, dari Tebet, dengan menggunakan kereta rel listrik (KRL), Supriono akan membawa jenazah anaknya itu ke Bogor untuk dimakamkan.

Namun, ketika Supriono sedang antre memasuki KRL sambil menggendong jenazah Khaerunisa yang dibungkus kain sarung kumal, seorang pedagang bertanya siapa yang digendongnya. Dia menjawab bahwa yang digendong adalah jenazah anaknya.
Jawaban Supriono ini mengagetkan orang di sekitarnya. Mereka lalu membawa Supriono dan dua anaknya ke Kantor Polisi Tebet. Sebab, mereka khawatir Khaerunisa meninggal karena sebab yang tidak wajar.
Polisi lalu membawa Supriono, Muriski, dan jenazah Khaerunisa ke Instalasi Pemulasaran Jenazah RSCM.

Sesampainya di RSCM, polisi minta jenazah Kharunisa diautopsi. Namun, petugas RSCM menyatakan tidak perlu karena sebab kematian Khaerunisa sudah jelas. Supriono sendiri juga menolak anaknya diautopsi dan minta agar Khaerunisa dapat segera dikuburkan.
Setelah akhirnya diizinkan polisi dan petugas Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSCM, Supriono segera membawa pergi jenazah Khaerunisa. Namun, karena tidak memiliki uang untuk menyewa mobil jenazah, jenazah Khaerunisa dibawanya pergi dengan cara digendong.

Anggota bagian Humas RSCM, Poniwati, mengaku belum mendengar kejadian itu hingga belum dapat berkomentar. Namun, menurut dia, jenazah Khaerunisa seharusnya dibawa dengan mobil jenazah. "Jika dia tidak memiliki uang, petugas kamar jenazah seharusnya membantunya dengan menghubungi Dinas Pemakaman," katanya.
Akan tetapi, seorang petugas Instalasi Pemulasaran Jenazah RSCM menolak jika disebut tidak membantu Suprino dengan menghubungi Dinas Pemakaman atau menyewakan mobil jenazah secara gratis. "Kami sudah menolong. Buktinya, saat itu saya memberi mereka uang Rp 10.000," katanya.

Hal senada disampaikan sejumlah orang lain yang saat itu ada di sekitar ruang Instalasi Pemulasaraan Jenazah RSCM. "Kami semua sudah membantu. Misalnya dengan mengumpulkan uang untuk Supriono yang saat itu mencapai Rp 200.000," ucapnya.
Uang sumbangan itu tidak cukup untuk menyewa mobil jenazah dari RSCM ke Bogor yang mencapai Rp 450.000.
GURU Besar Sosiologi Universitas Indonesia Paulus Wirutomo berpendapat, apa yang dilakukan petugas RSCM, polisi, dan orang lain terhadap Supriono di RSCM merupakan cermin etos kerja kita yang amat minimalis.

"Kita sudah merasa cukup jika telah melakukan apa yang menjadi tugas kita. Kita enggan melakukan hal-hal di luar tugas kita, apalagi jika itu membutuhkan banyak inisiatif dan pengorbanan," papar Wirutomo tentang etos kerja minimalis yang dia maksudkan.
Etos kerja minimalis yang antara lain berakibat pada rendahnya perhatian terhadap nasib sesamanya ini, menurut Wirutomo, terjadi karena ada banyak masalah yang setiap hari dihadapi warga Jakarta. "Bagi sebagian orang Jakarta, ada banyak orang yang bernasib seperti Supriono.
Jadi, jika harus dibantu, ada banyak orang yang harus dibantu hingga akhirnya daripada repot sendiri, lebih baik dicuekin saja," ujarnya.

Etos kerja minimalis juga disebabkan oleh minimalisnya perlakuan yang diterima sebagian besar orang dari lingkungan atau tempat kerjanya. "Etos minimalis ini merupakan sikap yang timbal balik. Jika seseorang diperlakukan minimalis oleh atasannya, dia juga akan berlaku serupa terhadap orang lain," jelas Wirutomo.
Kondisi ini makin diperparah oleh tanggung jawab kerja yang umumnya amat terbatas. "Bagi sebagian orang, buat apa melakukan sesuatu yang bukan tanggung jawabnya? Terbatasnya tanggung jawab juga membuat orang beranggapan akan ada orang lain yang melakukan hal itu, seperti membantu Supriono. "Masalahnya, orang lain juga berpikiran serupa hingga akhirnya justru tidak ada orang yang melakukannya," ucap Wirutomo. (M HERNOWO)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0...ro/1797379.htm
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
http://www.izzanabila.com
http://blog.intersat.net.id
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Sponsored Links

  #2 (permalink)  
Old 06-08-2005, 08:01 PM
Senior Member
In The Way To MasterIn The Way To Master
 
Join Date: Apr 2002
Posts: 181
baru saya mau posting
eh dah dipost..
btw mas aan, gimana setelah hary roesly maninggal,
rubrik asal usul di kompas dah ga greget ya
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
  #3 (permalink)  
Old 06-09-2005, 02:03 PM
aan's Avatar
aan aan is offline
Senior Member
-: Master :--: Master :-
 
Join Date: May 2002
Location: Jl. Tentara Rakyat Mataram, Badran Yogyakarta
Posts: 870
Send a message via ICQ to aan Send a message via Yahoo to aan
@jkoen : mungkin masih "malu-malu"
ini dari kompas juga
Penggendong Mayat Ketemu

Kota, Warta Kota
Supriono si penggendong mayat anaknya di KRL akhirnya ditemukan. Ia mengubur anaknya di Menteng Pulo.

Supriono alias Supri tertangkap basah tengah menggendong putrinya yang sudah jadi mayat, Nur Khaerunisa yang berusia 3 tahun, di Stasiun Tebet pada Minggu (5/6). Mayat itu dibungkus sarung, sementara mukanya ditutupi dengan kaus.

Kala itu, Supri berniat mengubur si kecil ke perkampungan pemulung di Bogor, dengan menumpang kereta rel listrik (KRL) karena tak punya duit untuk menyewa mobil jenazah. Pekerjaan Supri sebagai pemulung barang bekas dari kampung ke kampung tak memungkinkan untuk menyisakan duit.

Supri berikut mayat putrinya dan putra sulungnya, Muriski Saleh (6), dipaksa ke kantor Polsektro Tebet dan selanjutnya harus kembali ke RSCM untuk memastikan bahwa Khaerunisa bukan korban kejahatan. Supri menjelaskan bahwa anaknya itu meninggal di atas gerobak 07.00 karena muntaber. Supri hanya sekali mengobatkan Khaerunisa ke Puskesmas Setia Budi.

Karena itu ia ngotot menolak anaknya diautopsi. Akhirnya RSCM menyodorkan surat pernyataan yang harus ditandatangani Supri bahwa ia benar-benar menolak anaknya diautopsi.

Dengan bekal surat itu ia berniat menguburkan anaknya. Tapi belum tahu kemana. Hatinya ragu, karena waktu itu jarum jam menunjuk pukul 16.00. Terlalu sore untuk ke Bogor. Dan sejak itu pula, Warta Kota kehilangan jejak Supri.

Tiga hari tim Warta Kota menelusuri pangkalan pemulung dari Cikini hingga Manggarai. Perkampungan pemulung di Bogor plus beberapa stasiun juga dijelajah, tapi Supri tak ditemukan. Padahal, banyak pembaca Warta Kota berniat memberikan bantuan kemanusiaan buat Supri.

Berkat bantuan warga Manggarai, Jakarta Selatan, Supri akhirnya bisa ditemukan. Ia menumpang di rumah rumah petak di pinggiran Ciliwung milik Ibu Sri di Manggarai Utara IV, Tebet. Di sanalah, enam tahun lalu, Supri pernah mengontrak sebulan. Info bahwa Supri berada di sana disampaikan oleh salah seorang pelanggan Warta Kota, Ny Anna Purnomo.

Setahun lalu, Supri cabut dari Manggarai setelah berpisah dengan istrinya, Sariyem. Ia menggelandang sebagai pemulung bersama si kecil Nur Khaerunisa dan Muriski, dengan modal gerobak.

"Saya mangkal di depan Gereja (Isa Almasih) Cikini. Di sana ada halte. Kalau lagi hujan, gerobak saya bawa ke halte, biar anak-anak tidak kehujanan," kata Supri.

Keputusan Supri untuk pergi ke Manggarai muncul tiba-tiba. Sewaktu keluar dari kamar mayat RSCM sekitar pukul 16.10, Supri masih ingin melanjutkan perjalanan ke Bogor untuk mengubur anaknya, dengan menumpang KRL.

Supri berjalan dengan menggendong mayat anaknya, ditemani Muriski, ke Jalan Salemba tepatnya ke lampu merah di seberang St Carolus. Lama ia termenung karena sudah terlalu sore untuk ke Bogor. "Tiba-tiba terlintas dalam pikiran bahwa saya pernah tinggal di Manggarai. Saya putuskan ke Manggarai, minta tolong warga di sana untuk mengubur anak saya," katanya.

Ia lantas menyetop bajaj dan bayar Rp 5.000 untuk ke Manggarai. Supri, Muriski, dan mayat si kecil tiba di rumah Ibu Sri di Manggarai pukul 18.15. Rumah mungil itu hanya berjarak dua meter dari bibir Ciliwung. Dia lalu mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu tersebut.

"Saat itu saya sedang mandi, tiba-tiba anak saya memanggil saya, katanya ada tamu. Ternyata Supri. Saat itu dia menggendong anaknya dengan kain sarung. Kepala anaknya ditutup kaus warna putih, sementara kakinya terjuntai. Dia bilang ke saya katanya ’bu tolong saya’. Karena saya kira dia butuh uang akhirnya saya bergegas mengambil uang," ujar Sri yang mengaku masih mengingat wajah Supri meski sudah setahun pindah dari rumahnya.

Ketika Sri hendak mengambil uang, tiba-tiba Supri mengatakan bahwa anak yang digendongnya telah meninggal. Sri kaget. Setelah berpikir sejenak, Sri memberitahu warga. Dengan cepat, warga berdatangan untuk mengurusi mayat bocah tersebut.

Bendera kuning tanda berkabung dipasang di sudut-sudut jalan. Sementara lapak penjualan motor di tepi Jalan Manggarai Utara VI disekat dengan kain untuk meletakkan jenazah Khaerunisa. Sebab, sudah terlalu malam untuk mengubur jenazah.

Warga RT 08/RW 01 berkumpul. Mereka berbagi tugas, sebagian meminta surat ke RW dan kelurahan untuk keperluan penguburan. Tapi tetek bengek administrasi baru kelar Senin (7/6) pagi.

"Sebagian mengurus jenazah seperti memandikan dan kasih kain kafan. Sedangkan biaya perizinan hingga penguburan jenazah didapat dari sumbangan sukarela dari warga sekitar yang bersimpati," ujar Jono, warga yang juga bekerja sebagai petugas memandikan mayat di kawasan tersebut.

Menurut Supriatna yang ikut mengurusi jenazah Khaerunisa, biaya yang dibutuhkan untuk penguburan jenazah Khaerunisa kurang lebih Rp 600.000. Biaya ke Dinas Pemakaman Rp 350.000 dan biaya lainnya semisal membeli kain kafan dan lain-lain sekitar Rp 250.000.

Setelah diinapkan semalam, jenazah Khaerunisa dimakamkan di taman pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo Blok A5 di Jalan Casablanca, Pal Batu, Tebet, Senin (6/6). "Khaerunisa akhirnya bisa dikubut sekitar pukul 11.00," ujar Supriatna.

Dalam pemakaman itu, kakan Khaerunisa, Nuriski Saleh juga ikut serta. Semula Nuriski belum menyadari bahwa adiknya telah meninggal. Ketika dia melihat adiknya dimasukkan ke liang lahat, Nuriski bertanya kepada ayahnya, mengapa adiknya dikubur. "Nuriski baru tahu bahwa adiknya sudah meninggal setelah upacara pemakaman selesai. Saya baru bisa menjelaskan saat pemakaman itu," ujar Supri.
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi)
http://www.izzanabila.com
http://blog.intersat.net.id
Digg this Post!Add Post to del.icio.usBookmark Post in TechnoratiFurl this Post!
Reply With Quote
Reply


Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
 
Thread Tools

Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

vB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Trackbacks are On
Pingbacks are On
Refbacks are On

Similar Threads
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
Menumbuhkan Sikap Pemenang Anonymous Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 08-08-2005 12:56 PM
Sebelas Sikap yang Menjadi Penyumbang Kegagalan Terbesar aan Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 06-18-2004 10:28 AM
Rumah Seribu Cermin aan Hikmah, Motivation and Inspired Story 0 06-13-2004 10:06 PM


All times are GMT +8. The time now is 09:01 PM.


Powered by vBulletin® Version 3.6.7
Copyright ©2000 - 2010, Jelsoft Enterprises Ltd.
SEO by vBSEO 3.3.0
Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009