![]() |
|
|||||||
| Science 'n Art Diskusi paling borink 'N garink sedunia demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.... |
![]() |
|
|
LinkBack | Thread Tools |
|
||||
|
Kenapa Kita Harus Kecewa dan Sakit Hati terhadap Pemerintah?
he he he...Membaca tulisan kawan saya di blognya, ternyata mengungkapkan kritik dapat dilakukan dengan cara yang lucu juga ya?
Berikut cuplikannya n silahkan dibaca! ------------------------------------------------------- Kenapa Kita Harus Kecewa dan Sakit Hati terhadap Pemerintah? (Volume I) Saya sebetulnya ingin menulis panjang tentang kegoblokan pemerintahan SBY-JK (khusus untuk JK, kegoblokannya tidak hanya terlihat dari cara dia menjalankan tugas kepemerintahan, tapi juga dari cara dia mencukur kumis). Tapi setelah saya pertimbangkan, untuk di blog ini sebaiknya saya menulis secara ringkas dan sederhana saja dalam beberapa bagian. Oke, selamat membaca, terima kasih bila kamu semua setuju dengan pandangan saya dan saya juga berterima kasih bila kamu tidak setuju. Saya pikir, bohong besar bila pemerintah menyebutkan kenaikan BBM adalah untuk mengurangi beban belanja negara atas pengeluaran subsidi BBM dan, menurut pemerintah, subsidi itu pun diterima oleh kalangan yang tak pantas menerima subsidi. Maksudnya, dengan BBM yang disubsidi, orang kaya (baru) pun menikmati BBM dengan harga murah (menurut isi kantongnya). Subsidi harus dihapus karena Indonesia dengan bodohnya menurut pada aturan yang diterapkan oleh IMF dan WTO dalam menyelenggarakan perekonomian. Dan pemerintah menutupi ketidakberdayaannya melawan WTO dan IMF dengan menyampaikan argumen bodoh tentang penghilangan subsidi. Negara terbebani, kata orang-orang pemerintahan dan juga para ekonom pendukung pasar bebas dan globalisasi. Dana yang dikeluarkan untuk subsidi semestinya bisa dipakai untuk pembangunan infrasutruktur yang lain, katanya. Itu artinya secara tidak langsung negara menyalahkan orang miskin yang harus disubsidi oleh negara sehingga dengan subsidi itu, beban belanja jadi meningkat. Dungu sekali para pejabat dan para ekonom itu atau setidaknya, argumen yang digunakan adalah penjelasan bodoh untuk orang bodoh. Sebaiknya kalau memang harus menghukum orang miskin atas beban yang harus diterima oleh pemerintah atas kemiskinan itu, katakan saja begini: Karena kalian membebani kami, maka kami akan membunuh kalian dengan peralahan-lahan, karena menurut kapasitas otak kami yang terbatas ini, kematian adalah jalan terbaik untuk lepas dari kemiskinan. Pembunuhan perlahan-lahan itu harus kami lakukan karena kalau kami mengulang beberapa pembantaian masal seperti yang pernah dilakukan pemerintah terdahulu terhadap PKI dan PRRI, maka kami akan diseret ke pengadilan internasional, kami akan di Sadam Husein-kan, kami akan di Slobodan Milosevic-kan. Anak-cucu kami tentu malu punya orang tua yang ternyata telah melanggar HAM. Kami pun akan terancam tidak mendapat kucuran dana dari IMF dan dari pihak kaya asing lainnya. Makanya, maklumlah, karena memang kalian miskin, itulah yang harus kalian terima. Tapi setidaknya, sebelum kalian pada mati semua, kalian bisa meniti karir sebagai sastrawan dan menceritakan betapa pedihnya kemiskinan itu. Kami janji, akan membantu menerbitkannya menjadi buku, kami juga akan menyediakan ahli bahasa Inggris agar karya kalian bisa di baca diberbagai penjuru dunia. Semakin banyak yang membaca karya kalian, semakin banyak pulalah uang yang akan kalian terima. Dan siapa tahu kalian dapat penghargaan Nobel atau Book Prieze. Kalian tidak akan sanggup membayangkan betapa besarnya uang atas penghargaan yang kalian terima itu. Setidaknya bila kalian keburu mati setelah mendapat penghargaan itu, keturunan kalian tentu saja menjadi ahli warisnya. Tenang saja, kami akan membantu semua prosesnya, dan harap maklum saja bila sebagain kami gerogoti. Anggap saja uang kalian yang kami potong itu adalah bayaran atas ide penulisan yang bermula dari tindakan kami dalam menindas kalian. Atau bila ingin melakukan penjelasan yang terkesan lebih intelek, katakanlah seperti ini: Hai rakyat miskin, apa kabar? Sori ya, kita kudu naikin BBM nih, soalnya harga minyak mentah di dunia kan pada naek. Lagian kita kan negara yang mendukung globalisasi, jadi kalo kita gak naikin BBM, kita bakal dimarahi oleh Amerika. Kalian mau kita dimarahi Amerika? Enggak kan? Masalahnya gini. Kita ngedukung globalisasi, itu artinya kita membuka pasar kita selebar-lebarnya bagi produk asing. Contohnya begini, dalam globalisasi, SPBU itu gak harus berlogo Pertamina aja. Pihak asing juga boleh dong jualan di negri kita, Kan keren, kalo kita bisa beli bensin di SPBU dengan judul Shell atau apa kek. Nah, kita juga kasian ama Shell kalo kita gak naikin harga BBM. Soalnya Shell kan beli BBM nya berdasarkan harga minyak mentah yang udah naek itu. Jadi karena harga jual mengacu ke harga beli minyak mentah, mereka jadi rugi dong. Soalnya harga BBM di kita bisa murah karena pemerintah ngasih subsidi. Nah agar terjadi persaingan dagang yang mudah-mudahan sehat wal-afiat, jadi kita harus naikin BBM kita juga, agar bila Shell pengen jualan di sini, mereka gak harus kemahalan sendiri, mereka akan dapet temen pertamina yang harga jual bensin, solar, premix petramax dengan harga yang beda tipis. Kayak gini aje deh, misalnya kalian pengen jualan baju di kaki lima pasar senen. Sepotong lima rebu. Tapi di senen udah ada yang lebih dulu jual baju yang sama, tapi lima rebu malah dapet dua. Kalian jadi rugi dong kalo maksa bisa dagang di sono dan kalian juga gak mungkin nurunin harga karena dapetnya emang segitu. Jadi, biar bisa dagang, kalian kudu kerjasam ama pedagang yang udah ada duluan buat naikin harga. Gitu deh..Kasian kan Shell, jauh-jauh datang malah bangkrut, kita kan harus menghormati tamu. Ya, gak apa-apa juga deh kalo harga diri kita anjlok, tapi yang penting tamu kan harus senang. Oke ya rakyat miskin ya..sori ni ya… sori kalo kalian kewalahan nyekolahin anak, soalnya kalian miskin, gak usah pinter-pinter deh, toh nanti juga mati karena kalian pasti gak sanggup makan bergizi, berobat. Lagian sekolah kan gak bikin orang pinter, malah bikin orang bisa manut ama tuntutan globalisasi. Gak usah repot demo-demoan segala, percuma deh, kita udah budek ama yang begituan. Lagian demo itu kan panas-panasan atau hujan-hujanan. Kulit dan rambut kalian yang udah jelek karena gak sanggup membeli kosmetik jadi makin jelek, dong. Sori juga udah bikin kalian repot buat ngantri biar bisa dapat dana kompensasi. Ya, sebagai rakyat, kalian harus nrimo dong ama nasib. Kalau kalian nrimo kami kan gak usah repot ngakalin gimana caranya biar BBM gak naek. Ada yang ngusulin kenapa gak nyari uang buat pengganti subsidi BBM dari pajak kendaraan mewah. Oke juga tuh gagasan. Tapi kalian kan tahu, kalo kita ninggiin pajak, itu akan berbahaya bagi investasi asing dan dunia usaha. Maksudnya berbahaya bagi orang-orang yang dari dulunya udah kaya. Lagian kasian Toyota, Ford, General Motors, BMW, Mercedez, Honda dan laen-laen kalo pajak kendaraan mewah kita naikin. Dagangan mereka gak bakal laku dong, dan Toyota, Ford, BMW dan laen-laen itu bakal ngadu ke WTO bahwa kami, kite nih maksudnya, menghambat perdagangan bebas dengan mempersulit penjualan dagangan mereka. Nah kalo kita dimarahi ama WTO, berabe deh. Susah njelasinnya, maksudnya susah ngejelasin ke kalian karena kami gak bisa ngejelasinnya. Lagian kan gak keren kalo di jalan raya kita gak ada mobil keren. Coba pikirin, enak mana ngeliatin Honda Civic Wonder terseok-seok dibanding ngeliatin Jaguar, Lexus, BMW tipe Z yang dua pintu itu. Lagian mobil murahan ato mobil bekas tahun 80-an kan katanya gak ramah lingkungan. Bisa ngeliatin mobil-mobil keren itu aja udah lebih dari cukup kok bagi kalian. Kami juga kasihan ama anak-anak kami yang udah sekolah di luar sono trus jadi tengsin ama temen-temennya di sono karena di negrinya gak ada mobil mewah. Gila kan, mana negara kita udah sering diketawain ma orang-orang, di tambah lagi dengan rasa minder anak kami sebagai orang Indonesia. Trus biar tahu aja nih, make barang-barang produk Cartier, Arrow, Yves Saint Laurent, Piere Cardin, banyak deh yang lain, kalian gak bisa ngebayangin deh, itu enak banget. Udah keren, kalo nongkrong di restoran juga gak malu-maluin. Masak ke restoran pake minyak nyong-nyong. Ato kalo keringatan masak ngelap muka pake slampe kotak-kotak item putih yang banyak digelar di pinggir jalan. Minimal Drakkar lah. Udah deh rakyat miskin ya…tengkyu ya pemilu kemaren udah milih kami. Ntar kalo pemilu lagi, pilih kami lagi ya.. (2 November 2005) Kenapa Kita Harus Kecewa dan Sakit Hati terhadap Pemerintah? (Volume II) Dulu, jaman Pak Harto masih jadi presiden, orang-orang pada takut buat ngomongin hal-hal yang menurut mereka mengganggu. Dulu sering banget pertunjukan teater dibatalin karena isi pertunjukan katanya, dapat menganggu ketentraman masyarakat dan dapat menghasut kebencian pada pihak lain. Nah, hal itu katanya, dapat menganggu stabilitas dan kesatuan bangsa Indonesia. Banyak juga karya-karya tulis, entah itu sastra, kajian sejarah, ekonomi, sosial dan budaya yang dilarang terbit dan beredar karena dianggap subversif dan bertentangan dengan budaya Timur. Tai kucing! Apa itu budaya Timur? Yang gue tahu, budaya Timur adalah budaya yang dipelihara oleh para laki-laki agar bisa punya banyak istri, budaya yang dipelihari oleh para bapak-bapak agar dihormati oleh banyak orang, budayanya kaum hipokrit, muna, untuk mendustai diri. Sekarang, meski katanya udah jaman reformasi, gue tetap aja merasa terancam dengan apa yang gue tulis ini karena, dengan kepicikan dan kedunguan pemerintah, gue bisa ditangkap karena dituduh menghasut kebencian terhadap pemerintah yang sah: Pemeritah yang diakui oleh Amerika dan Inggris karena patuh pada fatwa-fatwa mereka tentang liberalisasi ekonomi. Liberalisasi ekonomi itu berarti, negara kita yang daya produksi dan daya beli lemah, harus terbuka bagi pedagang-pedagang luar negri buat jualan di sini. Trus liberalisasi itu dilindungi oleh semacam filsafat politik yang dinamai Globalisasi karena para penganjurnya takut bila menamai filsafat politik itu dengan Imperialisme. Lalu sekarang, karena globalisasi itu pula, pemerintah menaikkan harga BBM, memangkas subsidi dan membiarkan para pedagang, yang dinamai dengan investor, untuk julan dan ngeruk habis sumber daya kita seperti minyak, gas, kandungan rimba raya termasuk intelektualitas lokal. BBM harus dinaikkan sebab kalo ada pedagang minyak dari negri lain mau jualan disini (dan itu pasti ada, terbukti dengan dibukanya SPBU Shell -- perusahaan patungan Inggris dan Belanda di Lippo Karawaci, lihat Kompas 2 November 2005 hal. 17), harga minyak mereka akan tinggi bila harga minyak Pertamina (yang penuh oleh maling -- bahasa halusnya; koruptor -- itu) gak dinaikin. Mengeruk intelektualitas lokal misalnya begini: sebutlah seorang pedagang kain dari Spanyol, tertarik dengan batik pekalongan. Trus agar dia gak punya banyak saingan, batik pekalongan yang kemudian juga dia bikin dan dia jual, dipatenkan sehingga nanti kalo orang mau jual batik Pekalongan juga harus bayar royalti dan minta ijin ke mereka. Padahal yang jelas-jelas memiliki kemampuan itu kan orang Pekalongan! Hal itu dilindungi oleh perangkat sah globalisasi yang dibuat oleh WTO dan IMF dan tololnya, pemerintah Indonesia meratifikasi aturan-aturan geblek itu. Trus pemerintah mengangguk ama perintah IMF karena katanya, dengan meratifikasi aturan-aturan itu, investasi asing akan masuk ke Indonesia. Dana pembangunan akan dapat diperoleh dari investasi itu. Tapi kalo kita mau liat lebih teliti lagi, kenyataannya gak seperti itu. Investasi asing itu justru bentuk lain dari ekspolitasi habis-habisan terhadap manusia. Toyota atau BMW, misalnya, berinvestasi di Indonesia dengan membuka pabrik perakitan mobil karena emang, buruh di Indonesia bayarnya murah. Beda kalo mereka buka pabrik di Jerman, Jepang, Singapura, produk mereka jadi semakin mahal karena mereka juga harus bayar buruh yang tinggi. Lalu karena adanya produk-produk asing itu, belanja iklan semakin meningkat, Teve-teve dibanjiri oleh iklan produk yang seolah-olah bikinan Indonesia seperti produk pemutih kulit, pelurus rambut, sepatu ampe kondom. Teve, koran, majalah beruntung karena ada yang masang iklan, tapi masyarakat calon pembeli tertindas angan-angannya karena setiap saat diteror terus ama iklan tersebut sehingga kemudian gak ada lagi prioritas untuk membelanjakan uang yang pas-pasan itu karena udah tersedot oleh produk yang sedang diiklankan. Teve, koran, Majalah dan media lainnya gak berani, gak berani, gak berani, gak berani, mengecam dan mengkritik kebijakan dan pergerakan globalisasi karena takut gak bakal ada yang masang iklan. Globalisasi emang ada untungnya juga. Dari segi teknologi komunikasi, gue bisa ngobrol dengan orang dari mana aja di chat room dengan biaya murah. Gue bisa ngirim lamaran untuk pascasarjana dibidang kajian budaya di universitas-universitas di Inggris tanpa harus mengirimnya dalam bentu cetak melalui kantor pos (meski ampe sekarang, ajuan beasiswanya belon tembus-tembus juga hehehe..). Gue bisa baca National Geographic edisi internasional atau edisi Indonesia tiap bulan. Gue bisa, kalo uang cukup, beli minyak wangi Hogo Boss, Kenzo, bisa beli bingkai kacamata bermerk lacoste yang udah setahun ini nangkring di wajah, bisa beli baju Piere Cardin, Yves Saint Laurent, Geuss!Versace, celana jins Levistrauss, Wrangler yang nyaman di badan, atau apa aja tanpa harus menunggu bertahun-tahun sampai produknya ada di Sogo Mal Kelapa Gading atau di Plaza Senayan. Globalisasi juga yang membuat gue bisa membaca, dan lagi-lagi kalo uang cukup, dan membeli buku-buku bagus berbahasa Inggris di QB, Aksara, Periplus, atau mencicipi masakan italia yang citra rasanya udah diamerikakan (dan sebetulnya gak seenak masakan aslinya dan gak ..˜Astaga Benget.. -- ini istilah seorang teman untuk menyatakan betapa enaknya sebuah makanan) di Pizza Hut. Globalisasi juga yang membuat gue bisa membaca banyak sumber tentang perkembangan film di Inggris, Perancis,Belgia di internet untuk menutupi rasa muak gue pada noraknya film-film Amerika yang selalu majang di bioskop. Globalisasi juga yang membuat gue bisa mengalihkan perhatian dari tololnya program-program teve dengan menyibukkan diri membaca keadaan orang di Zimbabwe, Mali, Uzbekhistan..di internet..Dan, globalisasi juga yang membuat gue bisa ngomel-ngomel tentang globalisasi di Blog ini. Terakhir, globalisasi juga yang membuat kita harus menumbuhkan dan merawat kemarahan pada pemerintah yang dengan jumawa menaikkan harga BBM tanpa pernah mampu menghitung berapa juta perut yang selalu lapar di negeri ini. Masih wangikah Hugo Boss yang kerap gue pake bila pengen sedikit perlente ketika seseorang mati waktu ngantri untuk mendapatkan uang kompensasi kenaikan BBM yang jumlahnya gak sebanding dengan harga kemeja-kemeja Piere Cardin yang akan gue pake bila gue pengen terlihat mewah? Wah gak tahu tuh, yang jelas, ada banyak tubuh tanpa dibungkus Piere Cardin dan tidak disemerbaki oleh Hugo Boss yang sedang meregang nyawa karena lapar, akan ada yang mati sambil menahan lapar. Ada yang tidak tahu lagi apa itu kenyang. Sehingga atas globalisasi yang mengakibatkan banyak kemiskinan, membuat Bob Geldof menggelar konser musik luar biasa tempo hari yang berisi protes untuk negara-negara G-8. Bacaan yang menarik untuk menumbuhkan dan menguatkan kemarahan dan kekecewaan pada pemerintah: Culture and Imperialism, Edward W. Said Orientalism, Edward W. Said Star Gazing: Hollywood Cinema and Female Specatorship, Jackie Stacey Consumer Culture, Celia Lury White Mythologies, Robert Young Reading Capital, Louis Althusser Simulation, Jean Badrillard The Gulf War did not Take Place, Jean Baudrillard Power and Knowledge, Michel Foucault Culture, Media, Language, Stuart Hall Imperialism: The Permanent State of Capitalism, Herb Addo Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalization, Ajun Appadurai House of Spirit, Isabel Allende Olsyvinoliarnof-calon pemberontak yang takut banget ama tentara dan bedilnya (4 November 2005) Kenapa Kita Harus Kecewa dan Sakit Hati terhadap Pemerintah? (Volume III) Di harian Kompas, halaman 4, hari Rabu, 9 November 2005 dalam kolom Kilas Politik dan Hukum, disebutkan bahwa Presiden Bank Dunia, Paul Wolfowitz yang pernah jadi Duta Besar Amerika untuk Indonesia, mengucapkan selamat kepada Presiden Susilo Bambanga Yudhoyno atas setahun masa kepresidenannya. Kejadian itu dituturkan oleh Juru Bicara Presiden, Dino Patti Djalal, bahwa si Paul Wolfowitz ini menelpon langsung ke kediaman Presiden di Cikeas Bogor. Tidak disebutkan lebih rinci pembicaraan melalui telepon itu. Tapi karena si Paul yang menjabat Presiden Bank Dunia, yang wakil Amerika di Bank Dunia, yang pernah menjadi Dubes Amerika di Indonesia ini, yang menjadi kepala salah satu agen resmi globalisasi dan liberalisasi ekonomi di muka bumi, kita bisa memperkirakan pembicaraan mereka berdua. Inilah kira-kira isi pembicaraannya: “Hallo, saya bisa bicara dengan Pak Presiden?” Tanya Paul dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar karena pernah tinggal lama di Jakarta.”Oh, bisa, sebentar, ini dari siapa ya?”, Balas Pembantu Rumah Tangga Kepresidenan. “Saya Paul Wolfowitz, yang baru beberapa bulan ini menjadi Presiden Bank Dunia. Masak gak kenal sih?” “Oh ya Pak Paul, baik, tunggu sebentar, akan saya sambungkan langsung ke kamar beliau.” Pembantu Rumah Tangga Kepresidenan menyambungkan telpon itu ke kamar presiden dengan memberi pengantar: “Maaf, Pak Presiden, ini ada sambungan internasional dari Presiden Bank Dunia.” “Oh, Oke, tolong sambungkan langsung saya dengan beliau.” “Halo, apa Kabar pak Esbeye? Oh, ya mumpung masih dalam suasana lebaran, minal aidzin wal faidzin ya…” “Wah terima kasih pak Paul, Sama-sama, Taqabalallahu minna wa minkum (entah apa artinya, tapi kalimat berbahasa Arab ini saya kutip berdasarkan beberapa SMS dari teman yang ngucapin lebaran ke saya), Gimana nih, enak tidak jadi Presiden Bank Dunia?” “Oh, enak deh, pokoknya, tapi ini, Saya mau mengucapkan selamat atas satu tahun masa kepresidenan Anda di Indonesia. Sungguh, sebuah pola kepemimpinan yang luar biasa.” “Wah, Pak Paul bisa aja. Nyindir nih?” “Sungguh, ini ucapan dari lubuk hati yang paling dalam sebagai seorang pejabat tinggi Bang Dunia, terutama atas keputusan jenial Anda dalam menaikkan harga BBM.” “Sebetulnya ini keputusan yang berat sekali, Pak Paul. Saya takut jabatan saya singkat seperti yang dialami Gus Dur tempo hari.” “Wah, tenang sajalah Pak Esbeye. Anda tidak akan senasib seperti Gus Dur. Masa jabatan Anda tidak sesingkat Gus Dur. Soalnya Gus Dur itu udah nyebelin banget sih. Ngeyel terus ama kemauan IMF dan Amerika. Begitu juga mentri-mentrinya dalam jajaran perekonomian, narik garis permusuhan dengan IMF. Anda tahu sendirikan karena waktu itu jadi Menkopolkam. Udah begitu, mantan Gubernur Bank Indonesia yang udah membuka jalan bagi lancarnya globalisasi dan liberalisasi ekonomi di Indonesia, ama di malah diperkarakan. Trus pake main segala ama Khadafi dan Fidel Castro, dan berencana membuat pakta pertahanan dengan Cina dan India tanpa melibatkan Australia dan Amerika. Padahal Australia itu piaraan eh, wakil resmi Amerika di Asia Pasifik, ya tentu saja itu membahayakan politik luar negeri Amerika, jadi dia harus kita lengserkan dengan berbagai macam fitnah. Trus, gara-gara Gus Dur juga hubungan etnis-etnis mayoritas di Indonesia dengan etnis Cina mulai mesra. Nah, kemesraan itu berbahaya bagi Amerika. Soalnya jaringan internasional bisinis etnis Cina kan luas, nah kalo digabung dengan etnis lain, bisa berabe tuh perusahan-perusahaan Amerika. Untung, Amin Rais dan Megawati gampang kami pengaruhi, sehingga mudah bagi kami untuk menggeser Gus Dur.” “Wah, berarti ada jaminan dari Bank Dunia, Pemerintah Amerika dan IMF bahwa saya dan jabatan saya tidak akan terganggu?” “Jaminan sih tidak ada Pak Esbeye. Tapi gampang kok, Anda kan sudah dapat legitimasi politik dalam negeri setelah memangkan Pemilu Presiden meski KPU di negri Anda ini parah sekali, Itu mah perkara sepele, asal Anda manut ama kemauan WTO dan IMF, pasti aman deh, dan Bank Dunia akan membantu Anda secara finansial. Lagian kami kan punya banyak mesin kebenaran yang mampu membuat informasi jadi benar dan masuk akal, meski informasi itu bo’ong. Tau kan Anda, kalo citra Gus Dur rusak karena media massa, nah kami menguasai media massa. Dari media massa itulah berita tentang Gus Dur tersebar luas. Dari media massa juga kami bisa menciptakan amarah yang seolah-olah keluar dari aspirasi rakyat. Padahal itu kan aspirasinya Freeport dan segala macem agar bisa menguasai sumber daya alam di negeri Anda sehingga kemudian Gus Dur jatuh dan digantikan oleh Mbak Mega.” “Aduh, saya jadi sungkan sekali sama Pak Paul nih, jadi tidak tahu bagaimana cara membalas budi baik Bapak.” “Tenang saja Pak Esbeye, Anda tidak perlu sungkan selagi Anda masih patuh. Oh ya, nanti kan bakal ada pertemuan APEC di Korea Selatan, nah Anda bisa bertemu dengan Presiden Bush, bicarakanlah soal embargo senjata agar persenjataan TNI kuat kembali seperti pada tahun 80-an. Kalo persenjataan TNI kuat, demonstrasi, isu terorisme kan jadi gampang diatasi. Percayalah, media massa kami akan membantu Anda. Lagian LSM di Indonesia sekarang gak segalak waktu awal-awal reformasi. Sekarang cetek pak Esbeye, mereka udah pada jinak kok.” “Tapi kan Presiden Bush rada-rada bego gitu Pak Paul, apa dia ngerti apa yang akan saya bicarakan dengan dia?” “Ya, betul juga sih. Tapi si Bush itu udah berhasil di kendalikan oleh jajaran pengusaha kelas wahid Amerika, jadi dia akan mengerti maksud Anda, atau kalo pun tidak mengerti, para penasehat politiknya akan berjuang mati-matian untuk membuatnya mengerti.Tapi itu, kematian dua warga amerika di Timika kudu Anda beresin dulu. Soal pribumi yang tewas ketembak ato tewas karena laper sih bukan soal.” “Oke deh Pak Paul, terima kasih atas ucapan dan dukungannya.” “Ya, sama-sama, salam ya sama Pak Jeka, oya, bilangin tuh, mbok ya kumisnya dicukur, kan rada geli liat kumis model begituan, juga salam Pak Bakrie, stetement-nya di media massa emang nyakitin orang miskin, masak antre beli minyak tanah disamain dengan antre beli karcis bioskop, masak orang ngerasa kemahalan beli gas disuruh ganti minyak tanah, tapi itu no problem kok. Salam juga sama anak dan menantu Anda yang baru saja pengantenan. Aduh, itu acara resepsi pernikahannya mewah sekali. Lumayan loh, buat menaikkan citra Indonesia di mata pengusaha dunia. Teruslah berjuang Pak Esbeye, bersama kita bi(na)sa!” Pak Esbeye bingung lahir batin. Tidak menyangka bahwa jabatan Presiden sepanas dan senista ini. Dalam hati ada penyesalan yang mendalam setelah mengadali dan menggombali banyak konstituennya yang udah rela milih waktu Pemilu lalu, tapi sudah kepalang, tengsin kan, masak tentara mundur. olsyvinoliarnof-calonpemberontakyangtakutditangkap (9 November 2005) Kenapa Kita Harus Kecewa dan Sakit Hati terhadap Pemerintah? (Volume IV) Sumpah! Demi Tuhan, kalo dia tidak keberatan saya libatkan, sebetulnya saya rada ketar ketir juga setelah memajang tiga rangkaian tulisan tentang kenaikan BBM ini. Saya takut nanti, ratusan intel akan memata-matai saya. Teman-teman saya di Friendster bakal ditanya macem-macem. Soalnya, meski Pak Harto udah gak jadi presiden lagi, tetap aja intel itu intel. Intel itu mata-mata negara, bukan singatan dari indomie telor yang digemari oleh mahasiswa yang suka ngerasa dirinya sebagai agen perubahan, bukan juga prosesor komputer, kalo itu mah intel pentium. Gue juga takut kalo nanti gue diseret ke pengadilan karena dituduh menghina dan mencemarkan nama baik Presiden, Wakil Presiden dan Abrizal Bakrie. Tapi kalo tuduhannya mencemarkan nama baik gue akan bingung, nama baik yang mana? toh mereka udah bikin sengsara banyak orang. Apakah orang yang bikin banyak sengsara masih punya nama baik? Berabe kan kalo entar gue disidangkan sementara gue gak mampu bayar pengecara terkenal seperti O.C Kaligis atau beberapa pengacara lain yang kerap dipakai dan dibayar untuk membela para tersangka dan terdakwa kasus pencurian, eh korupsi. Udah begitu, gue kan bisa tiba-tiba tenar. Ketenaran inilah yang barangkali tidak akan pernah sanggup gue atasi. Gila aja ngebayangin kalo diri gue masuk teve sambil di uber-uber wartawan. Paling gue cuma bisa cengar-cengir goblok kayak para pesohor diwawancara dengan jawaban, no comment, no comment, waktu mereka bakal bercerai atau digosipkan bakal bercerai di salah satu acara gosip di teve. Gue menyarankan atau malah mengharuskan Pak Presiden mengusut masalah pembunuhan dan pemerkosaan terhadap masyarakat beretnis Cina pada tahun 98, selain itu pemerintah juga harus ngurus sederet pembunuhan kejam pada orang beretnis Cina waktu peristiwa 65 daripada ngurusin gue. Lalu, daripada mikirin gue: Kejahatan terhadap hak azasi manusia telah terlalu banyak terjadi di negri ini, tidak saja kejahatan karena senantiasa menciptakan jutaan orang miskin yang bahkan untuk makan teratur pun tidak sanggup karena memaksakan liberalisasi ekonomi, ada juga kejahatan yang membuat masyarakat beretnis Cina merasa terancam oleh kebencian yang sengaja ditumbuhkan oleh Pemerintah semenjak zaman kolonial Belanda hingga kini sehingga mereka harus membatasi pergaulan dengan etnis lain agar aman. Sekarang, terima kasih Gus Dur, hubungan etnis-etnis lain dengan etnis Cina tampak lebih baik dari jaman Pak Harto, setidaknya kita udah sering ngeliat orang nanggap barongsai, tapi ketahuilah banyak persoalan mendasar yang tetap ada seperti kasus SMS tolol yang beredar awal bulan November ini yang menganjurkan orang-orang untuk menyerang masyarakat beretnis Cina. Apakah dosa atau subversif menjadi orang keturunan Cina? Selanjutnya, tidak ada kebohongan dalam upaya menolak atau mengkritisi globalisasi dan liberalisasi ekonomi, sebaliknya dalam setiap upaya memaksakan globalisasi dan liberalisasi ekonomi penuh dengan kekadalan dan akal bulus yang berakhir pada kejahatan yang sangat kejam yang oleh almarhum Jack the Ripper, penjahat paling sadis dan nyeremen di London tak kepikiran. Bener, Jack the Ripper gak pernah membuat orang mati dalam hitungan ratusan ribu atau ratusan ribu orang terancam mati karena kelaparan dan kurang gizi. Jack the Ripper gak pernah nyamain antre beli minyak tanah dengan antre beli karcis bioskop, gak pernah dengan jumawa nyuruh orang ganti ke minyak tanah kalo udah kagak sanggup beli gas...Jadi, sejahat-jahatnya Jack the Ripper, gak pernah membuat jutaan orang harus ngaku miskin biar dapat uang kompensasi kenaikan BBM. Bodo deh, kalo gue dimarahin ama Pak Esbeye atau oleh Pak Jeka dan oleh para mentri-mentrinya. Sebetulnya kalo gue dimarahi oleh Pak Esbeye karena tulisan-tulisan gue, masih ada anggota-anggota DPR yang akan membela gue. Tapi, ah dasar kupret, anggota DPR itu juga gak bisa diandelin kok. Mereka malah sibuk ngurusin tunjangan bulanan dengan barbagai macam argumen yang sebaiknya gak diterima karena tipu semua deh. Masalahnya, kalo mau jadi wakil rakyat, ya harus siap miskin, harus siap menghabiskan banyak uang, atau kalau mau jadi politisi harus punya banyak sumber dana dulu (yang halal tentunya). Jangan malah makin ngerepotin dengan minta tunjangan dinaekin. Alasannya macem-macem, setoran buat partai, biaya ke daerah, pokoknya bikin pening deh mikirin kelakuan para anggota DPR yang konon terhormat itu.
__________________
Kebebasan bukanlah sesuatu yang menguntungkan jika tidak memberikan kebebasan untuk melakukan kesalahan (Mahatma Gandhi) http://www.izzanabila.com http://blog.intersat.net.id |
| Sponsored Links |
|
|
|
|||
|
Re: Kenapa Kita Harus Kecewa dan Sakit Hati terhadap Pemerin
banyak baneeeer
__________________
? RoSEs are ReD Thë skY is Blüe Sò TheN ... WheN i LaY DOwN on mY BeD i\'LL stArT ThINkinG oF ü ? |
![]() |
| Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests) | |
| Thread Tools | |
|
|
Similar Threads
|
||||
| Thread | Thread Starter | Forum | Replies | Last Post |
| HATI-HATI MAIN DI INTERSAT | tommy_goh | Kritik dan Saran | 20 | 12-05-2009 01:00 AM |
| Hati-Hati: Penipuan Berkedok Lowongan Pekerjaan | aan | Internet | 0 | 04-21-2006 01:26 PM |
| apakah kita semua sakit? | bRusan nDaftar | Kenalan & Curhat | 25 | 10-31-2005 07:42 PM |
| hati hati klo chatting... | jkoen | Internet | 2 | 01-04-2005 03:57 AM |
| kenapa kita harus tidur malam? | pesan_tuhan | Science 'n Art | 6 | 08-11-2004 12:24 PM |